Budaya  

Cegah Peradaban Sunda Tinggal Narasi, Anton Charliyan Tegaskan Dewan Kebudayaan Harus Jadi Garda Terdepan

KabarSunda.com- Mantan Kapolda Jabar periode 2016-2017, Anton Charliyan yang kini menjadi tokoh budaya Jawa Barat menegaskan, pembentukan Dewan Kebudayaan Jawa Barat menjadi sebuah keniscayaan.

Menurut dia, Dewan Kebudayaan bukan semata lembaga formal, melainkan pilar peradaban yang menyatukan tradisi, nilai luhur, dan arah pembangunan masyarakat yang lebih manusiawi dan berkarakter.

“Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, eksistensi budaya lokal kian tergerus oleh budaya luar yang menguasai ruang publik dan ruang sosial kita. Budaya Sunda, sebagai salah satu khazanah budaya bangsa, tidak lepas dari ancaman ini,” ujar Abah Anton, panggilan akrabnya, Sabtu, 21 Juni 2025.

Abah Anton Charliyan menegaskan, Dewan Kebudayaan bukan hanya forum diskusi para budayawan. Namun sebuah lembaga strategis yang memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah terkait pemajuan kebudayaan.

“Lebih jauh, ia bertugas menjaga identitas kultural masyarakat Jawa Barat sekaligus mendorong pengembangan inovasi budaya agar berdampak nyata pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Dewan Kebudayaan, lanjut Abah Anton, menjadi mitra aktif pemerintah, bukan hanya dalam pelestarian, tapi juga dalam pembangunan karakter masyarakat Sunda yang cageur (sehat jasmani rohani), bageur (berakhlak dan berperilaku baik), pinter (cerdas dan kompeten), serta singer (proaktif dan inovatif).

“Nilai-nilai ini bukan sekadar slogan, tetapi fondasi bagi masyarakat Jawa Barat yang beradab dan tangguh,” ujarnya.

Menyoroti krisis moral, menurunnya apresiasi terhadap seni, dan alienasi identitas kultural generasi muda belakangan ini, menurut Abah Anton adalah tantangan yang harus dijawab melalui pendidikan bahasa kebudayaan.

Antara lain lewat program-program seperti pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Sunda, pembelajaran bahasa daerah sejak dini, dokumentasi sejarah lokal, hingga revitalisasi seni pertunjukan tradisional.

“Kita bisa belajar dari Dewan Kebudayaan Yogyakarta (DKY) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Dua lembaga ini telah berkontribusi nyata dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan kebudayaan yang inklusif dan progresif,” tuturnya.

Namun begitu, tegas Abah Anton, Jawa Barat harus mampu menghadirkan versi khasnya sendiri, yang tidak hanya melestarikan tetapi juga memajukan budaya Sunda dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

Langkah konkret lain yang perlu didorong, kata Abah Anton adalah percepatan pengesahan Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan, pembentukan kurikulum budaya Sunda di sekolah-sekolah, pelatihan untuk guru budaya, serta dukungan bagi organisasi-organisasi masyarakat berbasis budaya.

Tanpa itu semua, menurut Abah Anton Charliyan yang juga mantan Kadiv Humasx Mabes Polri ini, nilai-nilai luhur akan tinggal narasi, dan potensi budaya hanya jadi dekorasi.

“Dewan Kebudayaan Jawa Barat harus lahir sebagai garda depan peradaban Sunda yang unggul dan adaptif. Budaya bukanlah beban masa lalu, tetapi energi masa depan. Ketika budaya dikelola dengan bijak, ia tidak hanya menjaga jati diri masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif, pariwisata, dan inovasi sosial,” tegasnya.

Dalam pernyataannya, Abah Anton Charliyan menyatakan, masyarakat yang cageur, bageur, pinter, dan singer bukan impian kosong. Itu adalah tujuan nyata yang bisa diraih dengan kerja kolaboratif antara pemerintah, budayawan, akademisi, dan seluruh masyarakat Jawa Barat.

“Sudah waktunya budaya menjadi panglima, bukan pelengkap. Dan Dewan Kebudayaan adalah instrumen utama untuk mewujudkan itu,” pungkasnya.