KabarSunda.com- Nama Asep sering dianggap sebagai identitas khas orang Sunda. Namun, ternyata sebutan itu bukan warisan sejak zaman kerajaan Sunda, melainkan baru populer pada abad ke-20.
Dalam sejumlah arsip lama zaman kolonial Belanda, sulit ditemukan sebelum tahun 1930-an, ada orang Sunda bernama Asep. Nama-nama orang bernama Asep mulai dikenal pada tahun 1950-an.
Berdasarkan arsip dari Koninklijke Bibliotheek Belanda, yang dikutip DeskJabar, nama Asep muncul dikenal pada tahun 1956. Nama Asep merupakan salah seorang saksi yang dihadirkan dalam pengadilan peristiwa APRA di Bandung tahun 1950 yang diberitakan suratkabar Java Bode.
Melihat catatan itu, besar kemungkinan, nama Asep mulai muncul sejak tahun 1930-an. Nama Asep seakan muncul menjadi semacam ciri masyarakat kelas menengah kalangan orang Sunda.
Diantara masyarakat Sunda, sering disebutkan, nama Asep awalnya dari kata “kasep” yang artinya “tampan”. Atau pula, awalnya panggilan kepada anak laki-laki yang diharapkan menjadi pria tampan.
Nama orang-orang Sunda dari zaman ke zaman
Dalam naskah Sunda kuno seperti Carita Parahyangan dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian, nama Asep tidak ditemukan. Saat itu, orang Sunda lebih banyak menggunakan nama tunggal seperti Rakeyan, Wastu, atau Mundinglaya.
Memasuki era kolonial Belanda, orang Sunda mulai menggunakan nama-nama Islam seperti Hasan, Umar, Ahmad, serta nama panggilan lokal seperti Enok atau Odah. Nama Asep belum tercatat dalam arsip kolonial abad ke-19.
Popularitas Asep baru terlihat sekitar 1930–1950. Ada yang menilai nama ini berasal dari kata asep dalam bahasa Sunda, yang dimaknai sebagai simbol keberuntungan karena “cepat naik ke langit.” Ada juga pendapat bahwa Asep merupakan bentuk penyundaan dari nama Arab Asyraf atau Asif.
Pada era Orde Baru, Asep menjadi nama sangat populer di Jawa Barat. Tokoh-tokoh Sunda dengan nama Asep pun bermunculan, salah satunya dalang wayang golek legendaris Asep Sunandar Sunarya.
Kini, tren penamaan di kalangan orang Sunda mulai bergeser ke nama Islami global atau modern. Meski begitu, Asep tetap melekat sebagai ikon kesundaan.









