Wali Kota Bandung Farhan Turun Tangan Dukung Situsaeur Tekan Angka Stunting

KabarSunda.com- Kelurahan Situsaeur di Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, kini tengah menjadi sorotan berkat komitmennya menekan angka stunting melalui berbagai inovasi.

Data terakhir menunjukkan ada 84 anak di bawah dua tahun yang terindikasi stunting di wilayah tersebut. Kondisi ini menjadi tantangan besar, namun juga pemicu semangat bagi pemerintah kelurahan untuk terus bergerak mencari solusi.

Lurah Situsaeur, Deni Setiabudi, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Sejumlah program lahir dari kepedulian ini, antara lain Pojok Calon Pengantin yang memberi edukasi kesehatan sejak masa pra-nikah, hingga program Remaja Peduli Stunting yang melibatkan generasi muda agar ikut peduli pada isu gizi.

Program ini diharapkan bisa menjadi benteng awal agar kasus stunting bisa ditekan dari hulu, bukan hanya diatasi ketika sudah terjadi.

Pencapaian lain yang juga penting adalah meningkatnya angka Open Defecation Free atau stop buang air besar sembarangan, yang kini sudah mencapai 56,37 persen.

Meskipun angka ini masih jauh dari target maksimal, langkah tersebut menandakan adanya perubahan perilaku warga menuju lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Perubahan sederhana seperti sanitasi yang baik ternyata berkaitan erat dengan kualitas gizi anak.

Upaya pencegahan stunting di Situsaeur tidak berdiri sendiri. Kelurahan ini juga aktif dalam program Kelurahan Siaga Sehat dan Tangguh Bencana, dengan sembilan proyek utama.

Mulai dari Peduli Stunting, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Kesehatan Ibu dan Anak, hingga program penanggulangan bencana alam. Pendekatan komprehensif ini menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa dipisahkan dari kesiapsiagaan lingkungan dan kualitas hidup keluarga.

Dukungan juga datang dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang menilai upaya kelurahan tersebut sebagai langkah serius dan berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa stunting adalah masalah generasi, sehingga pencegahannya harus dilakukan sedini mungkin. Farhan juga menyoroti pentingnya ruang publik sebagai bagian dari solusi.

Menurutnya, sarana olahraga, ruang berkumpul, hingga aktivitas seni budaya merupakan wadah interaksi sosial yang memperkuat solidaritas warga.

Bahkan, ia mendorong pemanfaatan fasilitas sekolah sebagai ruang bersama warga. Sekolah bisa menjadi tempat senam, bulu tangkis, atau sekadar titik temu untuk berinteraksi.

Dalam pandangannya, kebugaran dan kesehatan tidak hanya datang dari asupan gizi, tetapi juga dari kebersamaan, gotong royong, dan pola hidup aktif yang sehat.

Di balik upaya menekan angka stunting, tersimpan semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Situsaeur menunjukkan bahwa kerja nyata di tingkat kelurahan mampu menjadi contoh bagaimana sebuah wilayah bergerak bersama menghadapi tantangan kesehatan.

Harapannya, anak-anak yang tumbuh di wilayah ini kelak bisa menjadi generasi sehat, kuat, dan berdaya saing, sekaligus mempertegas komitmen Bandung sebagai kota yang peduli pada masa depan warganya.