Budaya  

Budaya Politik dalam Budaya Sunda

KabarSunda.com- Dalam pendidikan ­kewarganegaraan pasti Anda pernah mendengar istilah ­budaya politik. Apa sebenarnya budaya politik itu?

Budaya politik diba­ngun dari dua kata budaya dan politik. Untuk memahami pengertian dari budaya politik nampaknya perlu pe­mahaman lebih lanjut pe­nger­tian konsep budaya dan politik.

Sunda sebagai sebuah entitas budaya lokal terbesar kedua di Indonesia mempunyai sepe­rang­kat nilai atau norma dalam me­ng­atur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Khusus bidang politik, Sunda pun mempunyai norma sebagai warisan dari budaya le­lu­hurnya. Sejarah telah membuktikan, ba­nyak tokoh Sunda yang menjadi politisi dan berhasil menjadikan rakyat sejahtera aman dari an­cam­an.

Arnold Toynbee mengatakan, suatu entitas kebudayaan akan tetap langgeng dan survive bila mampu menjawab tantang­an yang dihadapinya.

Para ahli fungsionalis berpendapat, kebudayaan akan langgeng ketika kebudayaan tersebut fungsio­nal terhadap lingkungannya. Sebaliknya, kebudayaan akan meng­­alami krisis bila tidak mampu fungsional dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Di tengah arus zaman yang semakin global, kita dihadapkan pa­da persoalan yang serbakompleks. Sangat wajar bila banyak kebudayaan masuk ke Nusantara, sekaligus menjadi tantang­an bagi budaya lokal.

Arus mo­dernisasi, globalisasi merupakan rangkaian kebudayaan yang se­ngaja masuk karena kebutuhan zaman, sekaligus mempengaruhi  budaya lokal.

Kondisi ini berpengaruh terhadap tatanan kehidupan di ­se­gala bidang, termasuk aspek po­litik. Kehidupan politik di ­In­do­nesia diwarnai oleh gerak politik yang dilandasi oleh pemikiran sekuler.

Arena pertandingan po­litik pun telah melupakan seluruh fondasi ketimuran yang kita miliki.

Waris­an kebudayaan lo­kal yang sarat dengan nilai dan norma menjadi punah atau dilupakan oleh para aktor politik di Indonesia. Padahal, dalam budaya Sunda, terda­pat serentetan norma yang bisa dijadikan landasan bagi aktivitas politik.

Silih asih, silih asah, dan silih asuh merupakan ungkapan Sunda yang menjadi warisan budaya Sunda dalam menata kehidupan supaya hidup damai, tentram, dan aman.

Pamali tarung jeung dulur, pamali bengkah jeung du­lur, pun merupakan ungkap­an yang menata keakraban sosial antara saudara.

Masih banyak lagi wa­risan budaya Sunda yang semestinya men­jadi dasar bagi gerak lang­kah orang Sunda dalam berinte­raksi dengan lingkungan sekitar­nya termasuk dalam aspek politik, seperti kita harus cageur, bageur, pinter, singer, bener, teuneung, ludeung. Sa­ngat ironis bagi para politisi yang kaya akan nilai budaya lokal, khususnya po­litisi Sunda, jauh dari akar budaya yang semestinya.

Keberadaan politisi Sunda, yang secara kuantitas ataupun kualitas jauh ketinggalan oleh politisi lain, merupakan karakter yang harus segera dikembalikan kepada jati diri sebenarnya, yaitu menjadikan nilai budaya lokal sebagai dasar untuk berperilaku. Rasanya sikap siger tengah bu­kan satu-satunya alternatif dalam kondisi sekarang.

Hal ini disebabkan semakin kompleks­nya persaingan kebudayaan yang menuntut kepada kita untuk survive di tengah majemuknya budaya yang masuk, sekaligus memengaruhi aktivitas masya­rakat Indonesia. (Penulis, Didi Turmudzi, Ketua Umum ­Pe­ngurus Besar Paguyuban ­Pasundan)