Budaya  

Jati Diri Pesisir Utara Jabar: 9 Budaya Cirebon Masuk Warisan Budaya Takbenda Nasional

KabarSunda.com- Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi menetapkan sembilan karya budaya asal wilayah Cirebon, Jawa Barat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2025.

Penetapan ini menjadi momentum penting bagi pengakuan jati diri budaya pesisir utara Jawa Barat sekaligus bukti kearifan lokal Cirebon masih hidup di tengah arus modernisasi.

Dari total 42 karya budaya asal Jawa Barat yang masuk daftar tahun ini, sembilan di antaranya berasal dari Kabupaten dan Kota Cirebon.

Setiap karya menggambarkan karakter masyarakat yang religius, terbuka terhadap pengaruh luar, namun tetap menjaga akar tradisi dan nilai leluhur.

Kabupaten Cirebon mendominasi daftar tersebut dengan tujuh karya budaya. Salah satu yang paling dikenal ialah Batik Ciwaringin, warisan batik pesisir dengan motif bernuansa alam dan spiritual Islam.

Batik ini dibuat menggunakan pewarna alami dari tumbuhan, mencerminkan prinsip ramah lingkungan yang diwariskan turun-temurun oleh para perajin di Desa Ciwaringin.

Karya kedua, Tahu Gejrot, menjadi ikon kuliner Cirebon yang menembus batas daerah. Makanan sederhana berbahan tahu goreng ini memiliki cita rasa khas dari kuah asam manis pedas yang berasal dari campuran gula merah, cuka, dan cabai rawit.

Keunikan rasa ini menjadikan Tahu Gejrot bukan sekadar makanan, tetapi juga identitas kuliner masyarakat pesisir.

Kemudian ada Adus Sumur Pitu, tradisi mandi di tujuh sumur keramat di Palimanan. Tradisi ini dilakukan menjelang Ramadan atau sebelum hajatan besar.

Masyarakat percaya air dari sumur-sumur tersebut membawa berkah dan penyucian diri, sekaligus menjadi simbol keselarasan antara manusia dan alam.

Sementara Memayu Buyut Trusmi adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang berjasa mengembangkan batik di Trusmi. Tradisi ini menggabungkan doa, ziarah, dan pertunjukan seni rakyat, menjadi contoh bagaimana spiritualitas dan ekonomi kreatif bisa berjalan beriringan.

Dua tradisi lainnya, Muludan Tuk dan Pengantin Tebu Cirebon, memperlihatkan keragaman ekspresi masyarakat. Muludan Tuk merupakan perayaan Maulid Nabi di Desa Tuk, Kedawung, yang dipenuhi lantunan shalawat dan arak-arakan obor.

Sementara Pengantin Tebu adalah ritual simbolik pernikahan tebu jantan dan betina sebagai doa untuk panen melimpah. Tradisi ini menandai hubungan erat antara budaya agraris dan keyakinan spiritual masyarakat setempat.

Tak kalah penting, Syawalan Gunungjati menjadi puncak spiritualitas masyarakat Cirebon. Tradisi ini digelar sepekan setelah Idulfitri di kompleks makam Sunan Gunung Jati.

Ribuan peziarah datang dari berbagai daerah untuk berdoa dan mempererat silaturahmi, menjadikannya salah satu ritual keagamaan terbesar di Jawa Barat.

Dari Kota Cirebon, dua karya budaya turut masuk daftar WBTb 2025. Sega Bogana Cirebon mencerminkan kemewahan kuliner istana yang kini menjadi bagian dari hajatan rakyat.

Nasi yang disajikan dengan lauk opor ayam, dendeng, sambal goreng kentang, dan serundeng ini awalnya hanya tersaji dalam upacara adat keraton.

Selanjutnya Bakaseman Ikan Keraton Cirebon, olahan ikan bandeng yang diasinkan dan difermentasi dengan bumbu khas Kesultanan Cirebon, menjadi bukti pengaruh besar budaya pesisir dan kuliner kerajaan yang masih bertahan hingga kini.