KabarSunda.com- Masjid Raya Bandung kembali menjadi pusat perhatian. Bukan karena kemegahan bangunannya atau luas ruangannya yang mampu menampung hingga 12.000 orang, tetapi karena gagasan baru yang sedang disiapkan Pemerintah Kota Bandung: menghidupkan kembali jiwa masjid melalui seni dan budaya religi.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perkotaan, masjid ini diharapkan berdiri bukan hanya sebagai tempat sujud, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya energi kebaikan bagi wargi Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, melihat bahwa kekuatan sebuah masjid terletak pada aktivitasnya.
Fisiknya yang megah tidak akan banyak berarti tanpa kegiatan yang menggerakkan hati.
Ia ingin ruang yang besar itu menghadirkan getaran yang lebih luas, menjangkau bukan hanya ribuan jemaah yang hadir, tetapi puluhan ribu warga yang merasakan denyut aktivitasnya.
Gagasan itu muncul saat ia menghadiri kegiatan Karsa Asih Hari Lahir R.A.A.H.M. Wiranatakusumah V.
Di hadapan para tokoh dan keluarga besar pewaris sejarah Bandung, Farhan menegaskan pentingnya menjadikan masjid sebagai corong nilai kebaikan.
Dua menara yang menjadi ikon Masjid Raya Bandung, menurutnya, adalah simbol penyampai pesan—bukan sekadar ornamen arsitektur.
Untuk menghidupkan kembali suasana itu, Farhan menyebut festival bedug sebagai salah satu kegiatan yang akan diangkat kembali.
Tradisi ini pernah begitu akrab di Bandung, namun kini mulai jarang terdengar.
Ia merencanakan kolaborasi dengan Gubernur Banten untuk memperkaya konsep festival tersebut, mengingat Banten memiliki salah satu bedug terbaik di Indonesia. Bagi Farhan, pendekatan kultural seperti ini akan menjadi jiwa yang mengisi ruang masjid.
Ia menyadari bahwa membangun suasana tidak cukup hanya dengan ide besar. Pemkot Bandung kini juga berfokus pada hal dasar yang tak kalah penting: kebersihan dan ketertiban kawasan.
Sebelum program besar dijalankan, lingkungan masjid harus terasa nyaman. Upaya ini menjadi bagian dari optimalisasi konsep yang sudah ada, sambil menunggu konsep kultural yang lebih matang diterapkan.
Farhan juga menyinggung pengerjaan kawasan Alun-Alun Bandung yang terhubung langsung dengan area masjid.
Harapannya sederhana tetapi penuh makna: masyarakat bisa menikmati ruang publik yang utuh dan hidup, bahkan merayakan momen pergantian tahun di sana jika pengerjaan rampung tepat waktu.
Kegiatan budaya bernapas religi bukan hanya program seremonial dalam pandangan Pemkot Bandung.
Ia diproyeksikan sebagai energi penggerak, yang membuat Masjid Raya Bandung tidak sekadar menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang yang memberi rasa, suara, dan semangat baru bagi warga.
Sebuah ruang yang merangkul tradisi, memberdayakan komunitas, dan menyatukan nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan kota.
Dengan visi seperti itu, Masjid Raya Bandung diarahkan kembali kepada akarnya: menjadi titik temu antara iman, budaya, dan kebersamaan. Tempat di mana kebaikan tidak hanya dikhotbahkan, tetapi dirayakan dan dihidupkan bersama.









