KabarSunda.com– Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Bincang Karir Profesional Ilmu Komunikasi bersama Industri” di Auditorium Kampus F6 pada Rabu, 11 Februari 2026.
Acara ini hanya dihadiri oleh para dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma serta enam pakar industri terpilih, bertujuan meninjau kurikulum agar lebih selaras dengan tuntutan karir profesional di era digital.
FGD dimoderatori oleh Dr. Dinda Rakhma Fitriani dan Dr. Herna, yang memfasilitasi diskusi mendalam tentang peluang, kompetensi, dan tantangan lulusan ilmu komunikasi.
Narasumber utama meliputi Ahmad Bactiar Rifai (GM Marketing TV One), Prasetyo Utomo (Jurnalis Antara), Achdiyati Sumi (Social Media Specialist), Rita Nurlita (DISKOMINFO Depok, PR), Ahmad Ghozali (Strategi Riset dan Analisis Data Dentsu International Data), serta Wahab Afwan (Managing Director AMP Group).
Ahmad Bactiar Rifai menyoroti industri yang naik daun dengan transformasi cepat dan distraksi multi-screen (shifting, stacking, meshing).
“Rentang transformasi semakin pendek,” ujarnya, sarankan karir CPR, marketing, broadcasting, research data-driven; kompetensi resiliensi, etika, adaptasi; soft skill public speaking (“cara sampaikan ide lebih penting”), plus portofolio dan kolaborasi IT.
Prasetyo Utomo, sebagai jurnalis Antara, turut menyampaikan perspektif praktis dari lapangan jurnalisme terkait adaptasi karir ilmu komunikasi di era digital.
Rita Nurlita dari Diskominfo Depok menambahkan, bahwa gagasan pribadi harus dikembangkan melalui penguasaan digital.
“Konten dari diri kita selalu ikut, jadi kita harus bisa memilah mana yang bisa disampaikan,” katanya.
Ia berharap lulusan memiliki kompetensi kuat untuk menangani krisis dan soft skill tangguh menghadapi sentimen masyarakat.
Wahab Afwan mengungkap fakta krusial bahwa 70% lulusan bekerja di luar bidangnya, bukan karena kurang pengetahuan, melainkan gap dengan kebutuhan industri.
Diskusi ini menjadi momentum untuk menjembatani kesenjangan tersebut melalui kurikulum yang lebih adaptif.
Ahmad Ghozali membahas peran AI yang semakin imersif di periklanan untuk memudahkan proses kreatif.
“Magang sangat penting, tidak hanya kreativitas tapi bidang lain juga bisa diasah lebih baik,” tegasnya, mendorong pengalaman praktis sejak dini.
Achdiyati Sumi menganjurkan mahasiswa banyak mempelajari study case untuk menguasai teknis.
Ia memperkenalkan PESO Model di mana media sosial berperan besar, dengan kreativitas harus berbasis data dan etika.
“Permintaan social media specialist meningkat seiring perkembangan media sosial,” ujarnya, sambil menekankan perbedaan tools Instagram dan TikTok yang wajib dikuasai.
Diskusi berlangsung intens, menghasilkan rekomendasi untuk memperkaya kurikulum dengan elemen data-driven, AI, soft skill, dan magang industri.
FGD ini memperkuat komitmen Universitas Gunadarma membekali lulusan ilmu komunikasi dengan karir profesional yang kompetitif.
Acara diakhiri dengan apresiasi moderator atas kontribusi pakar, sekaligus menjadi langkah awal penyesuaian kurikulum Fakultas Ilmu Komunikasi untuk era transformasi digital.











