KabarSunda.com- Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung, tidak bisa dipisahkan dengan Hotel Savoy Homann.
Jarak hotel dengan Gedung Merdeka itu hanya ‘sejengkal’ atau sekitar 200 meter saja. Saat kegiatan KAA berlangsung pada 18 April 1955, sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika menghadiri konferensi internasional itu.
Beberapa delegasi penting menginap di hotel di kawasan Asia Afrika itu, seperti Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.
Di Hotel Savoy Homann masih tersimpan jejak sejarah KAA 1955. Ada tiga kamar yang pernah diinapi pemimpin negara, yakni Ir Soekarno (Presiden Indonesia), Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), dan Zhou Enlai (Perdana Menteri Tiongkok).
Wisatawan pun bisa menginap di tiga kamar eksklusif tersebut.
Marketing Communications (Marcomm) Hotel Savoy Homann, Yuke Yulianti mengatakan, posisi kamar kelas Homann Suite itu ada di sudut hoek hotel.
Soekarno menempati kamar nomor 244 di lantai 2. Sementara, Nehru di kamar 344 dan Zhou Enlai di nomor 444.
“Di dalam kamar itu ada dua bedroom, ada bathtub, dan dua kamar mandi. Selama KAA berlangsung (Soekarno) tidur di situ,” kata Yuke dikutip dari JPNN di Hotel Savoy Homann, Sabtu, 18 April 2026.
Yuke menuturkan, karena kamar tersebut kental dengan sejarah, banyak pejabat yang hendak maju dalam pemilihan, menginap di kamar itu.
“Karena banyak sekali orang-orang penting yang pernah menginap di hotel Homann Suite, ada beberapa masyarakat yang mempercayai katanya menginap di Homann Suite di saat ada pemilihan-pemilihan tertentu, mereka cenderung akan terpilih. Itu adalah mitos ya, tapi jadi daya tarik tersendiri,” tuturnya.
Kini, 71 tahun setelah kamar di tempati tokoh Proklamator Indonesia itu, manajemen hotel berupaya tetap menjaga keaslian dari furnitur di ruangan.
Salah satunya yakni furnitur kursi yang ada di ruang tamu kamar 244. Yuke mengungkapkan, sampai hari ini kulit yang melapisi kursi panjang itu masih dijaga keasliannya.
Harga per malam menginap di kamar tipe Suite ini dibanderol mulai dari Rp 4 juta hingga Rp 6 juta (weekeday), sedangkan weekend di harga Rp 5 juta hingga Rp 8 juta.
“Dulu kerasa banget ‘Paris van Java’ nya, font di gedung-gedungnya pun masih font Belanda. Ambience Kota Bandung di Asia Afrika seperti di Paris,” tutupnya.











