KabarSunda.com- Semangat pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan menyatu dalam kegiatan Pesta Dadung dan Penanaman Pohon yang digelar di Situ Hyang, Taman Mayasih, Kelurahan Cigugur, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari rangkaian Upacara Adat Seren Taun 1959 Saka Sunda yang setiap tahun diselenggarakan oleh masyarakat adat Cigugur bersama Paseban Tri Panca Tunggal.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani hadir bersama unsur pemerintah daerah, tokoh adat, budayawan, seniman, serta masyarakat yang turut meramaikan prosesi sarat makna tersebut.
Dalam sambutannya, Wabup Tuti menegaskan bahwa Seren Taun bukan sekadar tradisi budaya, melainkan warisan luhur yang mengandung nilai syukur, kebersamaan, serta penghormatan terhadap alam yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Pesta Dadung menjadi simbol harmonisasi hubungan manusia dengan alam. Tradisi ini mengajarkan bahwa seluruh makhluk hidup memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Nilai-nilai tersebut sangat relevan di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini, mulai dari perubahan iklim hingga menurunnya kualitas sumber daya alam”, ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penanaman pohon sebagai bentuk nyata komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Wabup Tuti mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan gerakan menanam pohon sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari.
Menurutnya, menanam pohon bukan hanya menanam harapan bagi masa depan, tetapi juga bentuk rasa syukur atas anugerah alam yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat Kuningan.
Usai prosesi utama, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembuangan hama secara simbolis sebagai wujud penghormatan terhadap keseimbangan alam sesuai filosofi Pesta Dadung.
Prosesi tersebut menggambarkan kearifan leluhur dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan tanpa merusak tatanan ekosistem.
Setelah itu, peserta bersama-sama melakukan penanaman pohon di kawasan sekitar kegiatan sebagai simbol kepedulian terhadap keberlanjutan alam dan upaya menjaga Kabupaten Kuningan sebagai daerah konservasi dan penyangga kehidupan.
Kemeriahan rangkaian acara semakin terasa dengan digelarnya Pawai 1.000 Kentongan yang berlangsung dari Taman Mayasih menuju Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur.
Seluruh peserta membawa kentongan sambil berjalan bersama dalam suasana penuh semangat, menciptakan harmoni bunyi yang menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan kuatnya ikatan budaya masyarakat Cigugur.









