KabarSunda.com- Warga di Kampung Giriharja, Desa Kebonjati, Kecamatan Sumedang Utara bisa memasak di kompor gas yang sumber apinya berasal dari limbah tahu. Lho kok bisa.
Ya, sejak 2020, kampung yang menjadi sentra produksi tahu Sumedang dan tahu kuning itu mengelola limbah tahu menjadi sumber energi baru, biogas.
Bisa lebih menghemat lagi saat memasak. Sumber api untuk menyalakan kompor gas itu berasal limbah cair pengolahan tahu Sumedang.
Di kampung sentra pabrik tahu Sumedang dan tahu kuning ini, limbah cair pengolahan tahu dari pabrik-pabrik tak lagi dibuang ke selokan. Limbah cair tahu ini disalurkan ke instalasi pengelolaan air limbah anaerobik yang dibangun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2013.
LIPI juga mengandeng Nanyang Technological University, Singapura untuk loka penelitian teknologi bersih (LPTB).
Ini inisiatif LIPI untuk memberikan solusi alternatif pengolahan limbah tahu secara anaerobic yang mampu menghasilkan energi alternatif berupa biogas.
Giriharja dipilih karena dukungan yang tinggi dari masyarakat setempat yang beprofesi sebagai pengrajin tahu. Masyarakat setempat mendukung dengan menyediakan lahan dan sekaligus ikut aktif berperan dalam pengelolaan IPAL.
Tahu telah menjadi ikon wisata kuliner Sumedang. Namun industri ini menghadapi masalah pengelolaan limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Limbah cair tahu mempunyai bau busuk yang menyengat.
Industri tahu merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah organik berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berasal dari proses penyaringan dan penggumpalan, sedangkan limbah cair dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pemadatan, hingga pencetakan tahu yang membuat volume limbah cair menjadi lebih tinggi.
Limbah cair tahu mempunyai pH rendah, berkisar di angka 4-5 di bawah ambang batas normal 7, dan mempunyai senyawa-senyawa terlarut yang apabila langsung dibuang dapat mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar.
Pengolahan limbah cair tahu dilakukan dengan mekanisme anaerobik. Limbah diproses dengan mekanisme anaerobik di mana mikroba tidak bisa hidup bila ada udara sehingga harus tertutup. Limbah tahu yang punya kandungan organik tinggi akan diuraikan oleh mikroba menjadi metana dan karbon dioksida atau yang dikenal sebagai energi biogas.
Selama empat tahun LIPI membangun proyek energy alternative di lereng Gunung Kacapi ini dan tahun 2018 dilakukan ujicoba dan 2020 mulai beroperasi.
Bersama warga yang diberi pelatihan, LIPI membenahi sistem pengaliran air limbah di pabrik tahu sehingga dapat memisahkan limbah cair pekat dengan limbah cair encer. Keseluruhan limbah cair dari pabrik tahu skala kecil-menengah disalurkan ke IPAL anaerobik.
Kapasitas produksi tahu sentra pabrik tahu skala kecil menengah ini mencapai 3 ton kedelai per hari dari 10 pengrajin tahu. IPAL Anaerobik ini mampu memproses limbah cair pekat sebanyak 24 meter kubik per hari.
Pengolahan limbah cair itu menghasilkan biogas 300 meter kubik per hari yang disalurkan ke 89 rumah tangga di Giriharja untuk kebutuhan memasak harian.
Pengelolaan IPAL yang terdiri dari tujuh reaktor ini memang memakan biaya yang besar.
Namun sejak tahun lalu, salah satu tangki pengelolaan limbah ini mengalami kerusakan. Akibatnya bukan hanya tak bisa menghasilkan biogas, limbah cair pengolahan tahu kembali dibuang langsung ke sungai.
Pemkab Sumedang siap membantu memperbaiki dan berkoordinasi dengan BRIN. Untuk perbaikan dianggarkan di Perubahan APBD tahun ini dan CSR bank bjb.













