KabarSunda.com- Indonesia memiliki begitu banyak suku yang tersebar luas di beberapa wilayahnya. Hal tersebut tentu menjadi kekayaan budaya yang dimiliki negeri ini. Ragam tradisi yang dianut bermacam suku pun memiliki daya tarik yang begitu menarik untuk diulik.
Salah satu yang bikin penasaran publik yakni mengenai mitos di dalam prosesi pernikahan adat Indonesia. Seperti halnya mitos pernikahan adat Sunda, yang masuk ke dalam daftar suku terbesar di Indonesia.
Untuk mitos pernikahan adat Sunda, terdapat beberapa yang masih dipercaya hingga saat ini.
Konon jika bersikukuh melakukan hal-hal berikut, akan menimbulkan kejadian yang kurang menyenangkan dalam rumah tangga. Ini informasi pantangannya:
1. Larangan menikah di bulan Safar
Yang pertama, suku Sunda mempercayai bahwa pernikahan sebaiknya tidak dilaksanakan di bulan Safar, yang merupakan bulan di dalam sistem penanggalan Hijriah.
Usut punya usut, pernikahan di bulan ini dianggap pamali atau tidak elok untuk dilakukan karena dipercaya akan membawa hal buruk dalam pernikahan.
Namun, tentu saja hal ini tidak memiliki landasan pelarangan yang jelas, karena hanya berdasarkan kepercayaan di dalam masyarakat Sunda.
Dengan kata lain, tidak ada bukti secara ilmiah yang menyebutkan bahwa pernikahan di bulan Safar akan menyebabkan hal buruk.
2. Larangan menikah dengan orang Jawa
Salah satu mitos yang paling populer di suku Sunda ialah larangan menikah dengan seseorang yang berasal dari suku Jawa. Ternyata, mitos ini berkembang dari sebuah sejarah memilukan di masa lalu, yakni kejadian Perang Bubat pada tahun 1357 Masehi yang melibatkan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Majapahit.
Terhormat akan keinginan sang Raja Majapahit, Prabu Linggabuana beserta rombongan Kerajaan Sunda dan sang putri tercinta pun pergi ke Kerajaan Majapahit.
Sebelumnya, dikatakan bahwa Kerajaan Majapahit akan menyambut mereka di persinggahan Bubat di Jawa Timur.
Akan tetapi, sesampainya rombongan Kerajaan Sunda di sana, mereka tidak mendapati penyambutan tersebut.
Nyatanya, sang mahapatih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada menentang acara penyambutan, karena dianggap merendahkan martabat Kerajaan Majapahit.
Ia pun lantas meminta Kerajaan Sunda untuk takluk di bawah Kerajaan Majapahit, karena Kerajaan Sunda adalah satu-satunya kerajaan di Nusantara yang belum mereka taklukkan.
Hal ini memicu kemarahan Kerajaan Sunda, hingga peristiwa pertumpahan darah pun tak terelakkan.
Pertemuan di antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka Citraresmi pun pupus, sebab seluruh rombongan Kerajaan Sunda tewas.
Ironisnya, Hayam Wuruk mengetahui hal ini setelah perang Bubat terjadi.
Rasa duka mendalam pun menyelimuti sang Raja Majapahit, sebab pernikahan di antara dirinya dan sang pujaan hati tak akan pernah terlaksana.
Hayam Wuruk lantas mengirimkan permohonan maafnya kepada Kerajaan Sunda, kendati tidak mendapatkan respon yang baik. Akhirnya, Kerajaan Majapahit pun mengalami keruntuhan kejayaan.
3. Larangan memakan sirih lamaran
Ada salah satu mitos unik tentang pernikahan di dalam suku Sunda, yakni larangan memakan sirih lamaran. Esensi dari pemberian sirih lamaran dalam pernikahan adat Sunda sendiri ialah wujud rasa rindu calon pengantin laki-laki kepada calon pengantin perempuan.
Apabila calon pengantin perempuan memakan sirih tersebut, baik itu sendirian, maupun bersama orang lain, niscaya ia akan datang bulan di hari pernikahannya nanti.
4. Larangan menjahit baju pernikahan sendiri
Selanjutnya, calon pengantin perempuan juga memiliki pantangan apabila hendak menjahit baju pernikahannya sendiri.
Karena, suku Sunda meyakini kalau setiap jahitan yang dibuat sang calon pengantin, akan berubah menjadi jumlah air mata yang ia keluarkan di dalam kehidupan pernikahannya nanti.









