Lembur Katumbiri, Kampung Wisata Murah Meriah di ‘Jantung’ Kota Bandung

Lembur Katumbiri saat diresmikan langsung Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada awal Mei 2025.

KabarSunda.com- Lembur Katumbiri, kampung warna-warni yang terletak di RW 12, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong ini menjadi destinasi wisata viral di Kota Bandung.

Kampung wisata ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pada awal Mei 2025.

Namun, untuk warga Bandung, Lembur Katumbiri bukanlah tempat yang asing. Saat kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, kawasan ini diberi nama Kampung Pelangi 200.

Kini namanya diubah menjadi Lembur Katumbiri yang berarti Kampung Pelangi dalam bahasa Sunda.

Sejak diresmikan, Lembur Katumbiri diserbu banyak wisatawan dari dalam dan luar kota. Mereka penasaran dengan kampung dikenal dengan mural cantik di tiap tembok rumah warga.

Umi, salah satu pengunjung asal Sumedang, mengaku datang ke Lembur Katumbiri karena melihat di media sosial TikTok. Umi dan rombongan teman-temannya itu lantas menyewa kendaraan roda empat untuk pergi ke Lembur Katumbiri.

“Soalnya di media sosial viral ya, terus lihat foto-foto kok seperti yang bagus dan cantik. Di sini bisa foto-foto sekalian olahraga jalan kaki,” kata Umi seperti dilansir JPNN, Kamis, 22 Mei 2025.

Adapun untuk menuju ke Lembur Katumbiri, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 700 meter dari jalan raya utama.

Pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan alam dan aliran sungai Cikapundung. Jalanannya yang bersih dan udara yang segar, tak jarang banyak warga yang juga menjadikan akses jalan ini sebagai tempat berolahraga, seperti bersepeda dan berlari.

Dalam perjalanan menuju Lembur Katumbiri, banyak warga membuka warung kecil yang menyediakan aneka jajanan dan makanan berat. Ada juga yang menjual, merchandise dan oleh-oleh seperti brownies.

Tak ada tiket masuk menuju ke sana. Di Lembur Katumbiri, pengunjung bisa berfoto di spot yang sudah disediakan dengan latar bangunan rumah berwarna-warni.

Rumah warga di sana juga ada yang disulap menjadi kafe kecil. Cocok dipakai tempat beristirahat pengunjung yang lelah setelah menempuh perjalanan.

Saat peresmian, Farhan mengatakan kehadiran Lembur Katumbiri sebagai bukti bahwa pembangunan Kota Bandung kini tak lagi sekadar urusan infrastruktur, tetapi juga mencakup aspek seni, budaya, dan kebersamaan warga.

“Bandung sekarang sedang fokus membangun sektor pariwisata. Bukan hanya Disbudpar, tapi juga Dinas Bina Marga dan SDA ikut menciptakan destinasi. Ini luar biasa. Bahkan mural pun menjadi media narasi yang kuat,” kata Farhan dikutip dalam keterangannya.

Farhan mengungkapkan, Pemkot Bandung akan meluncurkan program bertajuk ‘Bandung Punya Cerita’ mulai Agustus hingga perayaan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) September mendatang.

Program ini mendorong dokumentasi sejarah, cerita rakyat, dan mural bernarasi sebagai bagian dari transformasi wajah kota.

“Kita ingin Bandung punya cerita. Jangan sampai kota ini hanya jadi tempat lewat, tapi tak memberi kenangan. Mural di dinding harus punya narasi, seperti yang kita lihat di Leiden, Belanda, dengan puisi Khairil Anwarnya,” ungkap Farhan.

Farhan juga menyinggung pentingnya menjaga keteraturan kota, termasuk penataan PKL dan parkir liar.

Ia berharap Lembur Katumbiri bisa menjadi contoh kawasan wisata lokal yang rapi, inklusif, dan bernilai edukatif.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Didi Ruswandi menyebutkan, kawasan ini sebelumnya dikenal sebagai ‘Kampung Pelangi 200’ yang sempat viral pada 2020.

Kini, kampung tersebut direvitalisasi dengan pengecatan ulang 347 rumah menggunakan 504 galon cat senilai Rp190 juta, melibatkan 150 personel lapangan.

“Kami mulai dari luar karena bagian dalam sempat terkendala anggaran. Tapi luar biasa, viral lebih dulu sebelum diresmikan,” ungkap Didi.

Ia juga menjelaskan, Lembur Katumbiri memiliki daya tarik istimewa yaitu lokasi yang strategis dengan view mata elang, serta mural khas karya seniman John Martono.

Kawasan ini juga telah mengembangkan konservasi ikan endemik, urban farming, dan pasar mingguan melalui kolaborasi dengan DKPP.

Nama Lembur Katumbiri diusulkan langsung oleh warga untuk menggantikan nama sebelumnya, dengan harapan lebih mencerminkan identitas lokal dan menghindari stereotipe.

“Katumbiri” dalam bahasa Sunda berarti pelangi, namun dengan rasa kultural yang lebih dalam dan kontekstual,” tandasnya.