Wali Kota Farhan: Bandung Harus Taat Tata Ruang Demi Masa Depan Kota

KabarSunda.com- Di hadapan ratusan arsitek, akademisi, dan pegiat tata kota, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan satu hal penting: kepatuhan terhadap tata ruang adalah kunci menjaga arah pembangunan kota.

Forum Architecture Without Walls (AWW) 2025 yang digelar Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat di Laswi Heritage menjadi panggungnya.

Bandung, katanya, sudah punya peta delapan Sub Wilayah Kota (SWK). Namun, di lapangan, kerap terlihat arah pembangunan yang melenceng.

Ia menyinggung kawasan Tegallega yang seharusnya menjadi simpul perdagangan dan jasa, tetapi justru dipenuhi taman bertema dinosaurus.

“Sebagai warga asli Tegallega, saya pun tidak tahu mengapa harus ada dinosaurus di sana. Kita kehilangan cerita besar kawasan itu,” ucapnya.

Farhan juga menyoroti hilangnya sejumlah bangunan ikonik, termasuk Gedung Premier di Cihampelas.

Menurutnya, Bandung sering terjebak nostalgia, padahal perlu berani melahirkan ikon baru yang visioner.

Ia mengajak arsitek ikut menjaga warisan kota seperti Gedung Indonesia Menggugat, Rumah Inggit Garnasih, dan Aula Barat ITB.

Dalam forum itu, ia menekankan pentingnya menghidupkan Transit Oriented Development (TOD) agar simpul-simpul pergerakan kota kembali berfungsi.

Visi Bandung sebagai kota hijau, ramah lingkungan, dan kreatif hanya bisa terwujud jika ada kepatuhan.

“Visi apa pun tak akan berhasil tanpa compliance. Saya belajar dari Lee Kuan Yew: kunci sukses Singapura adalah kepatuhan, dimulai dari pemimpinnya sendiri,” ujarnya.

Dua program unggulan, Kang Pisman dan Buruan Sae, disebutnya sebagai bukti bahwa konsistensi tata kelola bisa berdampak nyata. Buruan Sae, misalnya, membantu meredam harga cabai dan bawang merah yang kerap memicu inflasi psikologis.

Farhan menutup dengan harapan agar Bandung menjadi laboratorium desain kota yang memadukan kreativitas, sejarah, dan tata kelola berkelanjutan.

“Bandung harus melahirkan benchmark arsitektur baru, sehingga orang berkata: inilah galeri arsitektur Indonesia, bukan hanya 50 tahun lalu, tapi juga 50 tahun ke depan.”

Forum AWW 2025 yang berlangsung 25–28 September 2025 ini seolah menjadi ruang renung, apakah Bandung ingin terus terjebak pada kebanggaan masa lalu, atau berani melangkah konsisten menuju kota masa depan.