Budaya  

Kesenian Reak Sumedang: Warisan Mistis dan Magis yang Masih Bertahan di Tanah Sunda

KabarSunda.com- Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menyimpan banyak kesenian tradisional yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sunda.

Salah satu yang paling unik sekaligus sakral adalah Kesenian Reak — sebuah pertunjukan kolosal yang memadukan unsur musik, tari, serta ritual tradisi spiritual.

Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai magis, budaya agraris, dan simbol penghormatan kepada leluhur.

Sejarah Kesenian Reak Sumedang

Kesenian Reak diyakini telah ada sejak masa kerajaan Sumedang Larang dan berkembang pesat di wilayah Ujungjaya, Buahdua, dan Tomo.

Awalnya, Reak muncul sebagai bagian dari upacara seren taun atau syukuran panen, di mana masyarakat memanjatkan doa kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah.

Dalam perkembangannya, Reak juga digunakan untuk menyambut tamu agung, pesta rakyat, dan acara khitanan anak laki-laki.

Unsur magisnya muncul karena beberapa pemain, khususnya penari topeng dan pemain musik, sering mengalami trance atau kerasukan roh leluhur saat pementasan berlangsung. Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.

Unsur dan Alat Musik dalam Kesenian Reak

Pertunjukan Reak biasanya melibatkan 20–50 orang pemain, terdiri dari penabuh, penari, dan pengiring.

Adapun alat musik utama yang digunakan antara lain:

* Dogdog dan Kendang – instrumen pengatur irama utama dengan pukulan keras dan ritmis.

* Goong dan Kempul – menciptakan nada berat yang menggema, memberi kesan mistis.

* Terompet Reak – alat khas yang menghasilkan suara nyaring, dianggap sebagai “pemanggil roh” dalam konteks spiritual.

* Kecrek dan Bedug kecil – memperkaya ritme dan transisi dalam pertunjukan.

Selain alat musik, tokoh utama dalam Reak biasanya mengenakan topeng raksasa menyerupai wajah buta (raksasa), lengkap dengan pakaian adat berwarna mencolok.
Gerakan penarinya energik, menghentak, dan sering disertai dengan tarian trance yang menegangkan namun penuh makna simbolik.

Makna dan Fungsi Sosial Kesenian Reak

Kesenian Reak memiliki fungsi sosial dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Sumedang.

* Sebagai media syukur kepada Tuhan atas hasil panen.

* Sebagai pertunjukan hiburan rakyat yang mempersatukan warga desa.

* Sebagai ekspresi spiritual dan penghormatan terhadap leluhur.

* Sebagai identitas budaya masyarakat agraris Sunda yang menjunjung harmoni antara manusia, alam, dan roh penjaga bumi.

Perkembangan Reak di Era Modern

Seiring perubahan zaman, kesenian Reak sempat mengalami kemunduran, terutama karena dianggap kuno dan kurang relevan dengan kehidupan modern. Namun sejak awal 2010-an, komunitas seni di Sumedang dan pemerintah daerah mulai melakukan upaya pelestarian melalui:

* Festival Reak Sumedang, yang rutin digelar setiap tahun di berbagai kecamatan.

* Pelatihan seni tradisional di sekolah dan sanggar budaya.

* Pementasan dalam acara wisata budaya, seperti di Waduk Jatigede dan Taman Prabu Geusan Ulun.

Kini, Reak tidak lagi semata dianggap mistis, tetapi juga sebagai seni pertunjukan khas Sumedang yang merefleksikan kekuatan budaya lokal dan semangat gotong royong masyarakat Sunda.

Harapan Pelestarian

Kehidupan kesenian Reak menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal masih mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Dengan dukungan masyarakat, lembaga budaya, dan pemerintah, Reak dapat terus dipentaskan tidak hanya sebagai ritual desa, tetapi juga sebagai warisan budaya tak benda yang memperkaya identitas Sumedang di tingkat nasional bahkan internasional.