Budaya  

Kampung Naga Tasikmalaya, Hidup Tanpa Listrik dan Arsitektur Seragam di Tengah Arus Modernisasi

Seorang warga mengisi minyak tanah subsidi untuk bahan bakar lampu petromaks. Ft Antara

KabarSunda.com- Tersembunyi di lembah subur tepi Sungai Ciwulan, Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, berdiri sebagai benteng kokoh yang menjaga warisan budaya dan kearifan lokal Sunda.

Kampung adat ini bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan sebuah “museum hidup” yang menawarkan ketenangan alam dan pelajaran berharga tentang kesederhanaan.

Untuk mencapai permukiman unik yang diapit sawah hijau, bukit, dan hutan ini, pengunjung harus menuruni sekitar 400 anak tangga batu alam yang cukup curam.

Perjalanan yang sedikit menguras tenaga ini akan segera terbayar lunas oleh pemandangan yang menyejukkan dan udara yang sangat segar, jauh dari polusi dan hiruk pikuk perkotaan.

Daya tarik terbesar Kampung Naga terletak pada komitmen teguh warganya dalam memegang adat istiadat leluhur (karuhun), yang termanifestasi dalam gaya hidup dan arsitektur mereka.

Sebanyak 111 rumah di Kampung Naga memiliki arsitektur yang seragam yakni berupa rumah panggung, berbahan kayu dan bambu, berdinding bilik anyaman (sasag), berlantai papan, dan beratap ijuk. Semua bangunan dilarang menggunakan semen, genteng, atau cat, serta harus menghadap utara atau selatan. Keseragaman ini melambangkan kerukunan dan kesetaraan.

Warga Kampung Naga secara konsisten tidak menggunakan listrik, gas, atau perabotan modern seperti meja dan kursi di dalam rumah. Penerangan mengandalkan lampu minyak, dan memasak masih menggunakan tungku tradisional.

Gaya hidup yang jauh dari konsep modern ini memberikan pengalaman otentik dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Kampung Naga juga menjadi tujuan ideal untuk wisata edukasi budaya. Masyarakatnya masih aktif melestarikan berbagai upacara adat dan kesenian.

Beberapa ritual penting yang masih dipertahankan adalah Upacara Hajat Sasih (upacara tahunan yang terkait dengan keagamaan dan pertanian) dan Upacara Menyepi (ritual keheningan). Kesenian seperti tarian Terbang Gembrung juga menjadi bagian penting dari tradisi.

Warga sangat menghormati alam sekitar, yang dibuktikan dengan adanya “Leuweung Larangan” atau hutan keramat yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun. Mereka juga menerapkan sistem penyaringan alami untuk limbah rumah tangga sebelum dialirkan ke Sungai Ciwulan.

Wisatawan juga dapat berinteraksi langsung dengan kehidupan sehari-hari warga, bahkan tersedia opsi untuk homestay di rumah penduduk. Untuk kenang-kenangan, Anda dapat berburu kerajinan tangan khas yang dibuat oleh masyarakat lokal, seperti:

  • Anyaman lampu gantung
  • Teko dan tas dari batok kelapa
  • Bakul nasi dan tas anyaman

Dengan segala keunikan dan ketenangan yang ditawarkannya, Kampung Naga di Tasikmalaya adalah permata budaya yang mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga tradisi, hidup selaras dengan alam, dan menemukan kedamaian dalam kesederhanaan.