Aplikasi Genep Waluya, Cara SMAN 6 Bandung Ajak Siswa “Push Rank” Kebaikan di Bulan Ramadan

Kepala SMAN 6 Bandung, Yadi Setiadi Mengapresiasi Inovasi Tersebut

Genep Waluya, aplikasi Ramadan SMAN 6 Bandung.Dok-Nizar Humas Disdik Jabar

KabarSunda.com- Ramadan tahun ini terasa berbeda di SMAN 6 Bandung. Bukan karena aturan baru atau program tambahan semata, melainkan hadirnya aplikasi Genep Waluya yang mengajak siswa berlomba dalam kebaikan.

Aplikasi ini merupakan inovasi guru IT SMAN 6 Bandung, Tonny Hidayat Poniman. Ia mengaku terinspirasi dari fenomena keseharian siswa yang akrab dengan gim.

“Anak-anak sekarang tidak bisa lepas dari gim. Saya berpikir untuk membuat aplikasi ini dengan konsep gamifikasi untuk memotivasi siswa,” ungkapnya saat ditemui di sekolah, Selasa (24/2/2026).

Berangkat dari pemikiran tersebut, Tonny mengonversi pahala dan aktivitas kebaikan menjadi poin atau XP yang ditampilkan dalam bentuk leaderboard (klasemen). Hasilnya di luar dugaan, siswa saling menyalip peringkat, berlomba-lomba meningkatkan amalan.

Tak hanya tadarus Al-Qur’an, aplikasi ini juga merekam berbagai amaliah Ramadan seperti salat fardu dan rawatib, duha, tarawih hingga aksi-aksi ekologis. Seluruh aktivitas dapat dilengkapi dokumentasi sederhana sebagai bentuk pelaporan.

“Awalnya kami batasi input tadarus maksimal 500 ayat karena khawatir ada spam. Ternyata, banyak siswa yang melapor sudah lebih dari itu dan tidak bisa input lagi. Mereka protes karena merasa jujur. Ini membuka pandangan bahwa ternyata mereka luar biasa,” ungkap guru yang telah mengajar sejak 2011 tersebut.

Hingga hari keenam Ramadan, tercatat sekitar 400 ribu ayat Al-Qur’an telah dibaca siswa dan terinput dalam sistem.

Meski berbasis teknologi, Tonny yang merupakan Juara 1 Nasional “Hackathon Guru Rumah Pendidikan” tingkat SMA ini menegaskan bahwa kehadiran guru tetap menjadi kunci.

“Secanggih apa pun aplikasi, tidak bisa menggantikan peran guru. Wali kelas tetap memantau dan berinteraksi secara humanis dengan siswa,” tegas guru lulusan Ilmu Komputer UPI tersebut.

Cara Sekolah Beradaptasi

Kepala SMAN 6 Bandung, Yadi Setiadi pun mengapresiasi inovasi tersebut. Terobosan ini bahkan telah menginspirasi sekolah lain di Kota Bandung.

Menurutnya, Genep Waluya bukan sekadar aplikasi, melainkan bentuk adaptasi sekolah terhadap perkembangan zaman.

“Kami tidak ingin menjauhkan siswa dari teknologi. Justru kami ingin mengalihkan fokus mereka dari penggunaan teknologi yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat,” ujarnya.

Ia menambahkan, aplikasi ini dirancang sederhana dan user friendly agar mudah digunakan siswa. Sistem klasemen justru menjadi pemantik motivasi.

“Ketika mereka melihat dirinya di peringkat dua atau tiga, itu menjadi dorongan untuk lebih baik. Semangat berlomba dalam kebaikan itu tumbuh dengan cara yang dekat dengan dunia mereka,” katanya.

Yadi berharap, Genep Waluya menjadi media internalisasi nilai-nilai karakter, sejalan dengan Gapura Pancawaluya dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Salah satu siswa, Queensha Cecilya Putri Pratama mengaku, aplikasi ini membuatnya lebih termotivasi dalam beribadah.

“Aku bisa memotivasi diri berlomba dalam kebaikan karena di aplikasi ada leaderboard dan poin, jadi bisa tahu kita urutan berapa,” tuturnya yang saat ini berada di peringkat kedua.