Dahlan Iskan: Peran Pemimpin Harus Dominan

Dahlan Iskan Sosok Inspiratif.Dok-Diskominfosanditik Sumedang

KabarSunda.com- Dahlan Iskan yang menjadi narasumber  Reform Corner di Pemkab Sumedang menekankan pentingnya dominasi kepemimpinan dalam kondisi organisasi yang belum berjalan normal.

Menurut Menteri BUMN Republik Indonesia periode 2011–2014, pada situasi tertentu, peran pemimpin nomor satu bisa mencapai hingga 80 persen dalam menentukan arah organisasi.

“Dalam kondisi organisasi yang belum normal, peran pemimpin nomor satu harus sangat dominan. Bahkan bisa mencapai 80 persen karena keputusan dan arah organisasi sangat bergantung pada kepemimpinan,” ujar Dahlan saat Reform Corner Meritokrasi Birokrasi bertema Mewujudkan Birokrasi Tanpa Sekat untuk Membangun ASN Sumedang yang Gesit, Tuntas dan Berorientasi Hasil  di Aula Tampomas Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Senin (11/5/2026).

Ia menilai kondisi tersebut biasanya terjadi ketika pembagian pekerjaan di dalam organisasi belum berjalan seimbang.

Sebagian pegawai mendapatkan beban kerja sangat besar, sementara sebagian lainnya belum memperoleh tanggung jawab yang proporsional.

“Sekarang banyak pegawai yang terus diberikan pekerjaan karena dianggap mampu menyelesaikan tugas. Tetapi di sisi lain, ada juga pegawai yang justru minim pekerjaan,” katanya.

Menurut Dahlan, kondisi tersebut muncul karena adanya kekhawatiran seorang pemimpin terhadap kegagalan program maupun target organisasi.

Akibatnya, tugas cenderung diberikan kepada pegawai yang dinilai paling siap dan mampu bekerja dengan baik.

“Seorang pemimpin pasti memiliki rasa takut apabila program tidak berjalan atau gagal. Karena itu tugas biasanya diberikan kepada pegawai yang dianggap mampu dan selama ini berhasil melaksanakan pekerjaan dengan baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pegawai yang memiliki kapasitas dan loyalitas tinggi sering kali menerima beban pekerjaan lebih besar secara terus-menerus.

Karena itu, pola tersebut harus diimbangi dengan penghargaan yang layak agar tidak menimbulkan ketimpangan maupun kejenuhan di lingkungan kerja.

“Pemimpin yang baik bukan hanya memberi tugas, tetapi juga harus memberikan penghargaan kepada pegawai yang selama ini memikul beban pekerjaan lebih besar,” tambahnya.

Menurut Dahlan, bentuk penghargaan dapat diberikan melalui berbagai cara, mulai dari bonus, penghargaan kinerja, kesempatan promosi jabatan hingga pengembangan karier.

“Kalau seseorang terus diberi tanggung jawab besar, maka harus ada apresiasi yang setimpal. Bisa dalam bentuk bonus, promosi jabatan ataupun penghargaan lainnya agar motivasi kerja tetap terjaga,” katanya.