Budaya  

Mengenal Lebih Dekat Kampung Naga, Menjaga Adat Istiadat dan Tradisi Leluhur Sunda

Rumah Adat Kampung Naga Tasikmalaya.Dok-KabarSunda.com

KabarSunda.com- Kampung Naga di Desa Neglasari, Salawu, Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa barat, sangat teguh menjaga adat istiadat dan tradisi Sunda leluhur.

Kehidupan di perkampungan ini selaras dengan alam, di mana warga menolak penggunaan listrik, menaati aturan ketat bentuk bangunan, serta menjaga kelestarian lingkungan dan hutan keramat dari pengaruh modernisasi.

Hidup berdampingan dengan alam, menjadi sebuah kepercayaan yang terpatri oleh orang-orang di Kampung Naga . Warga Kampung Naga akan terus bertahan menjaga adat tradisi karuhun (leluhur) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Beberapa aturan dan tradisi utama yang sangat dijaga di Kampung Naga meliputi:

Aturan dan Pantangan Adat (Pamali)

Aturan Bangunan: Rumah wajib berbentuk panggung dengan material alami (bilik bambu, kayu, dan atap ijuk/daun nipah). Dilarang keras menggunakan tembok semen, cat, dan genteng.

Tanpa Listrik: Warga tidak menggunakan aliran listrik modern di dalam kawasan kampung untuk menjaga keaslian budaya dan mencegah ketergantungan.

Larangan Hari Tertentu: Terdapat hari yang “ditabukan” untuk melakukan kegiatan tertentu atau menerima tamu, yakni pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu.

Hutan Keramat: Dilarang keras memasuki kawasan Leuweung Larangan (hutan keramat) yang disakralkan.

Aturan Sungai: Tidak diperbolehkan membuang sampah atau limbah rumah tangga langsung ke aliran Sungai Ciwulan.

Upacara Adat Utama

Hajat Sasih: Upacara ziarah ke makam leluhur, membersihkan lingkungan, berdoa bersama, dan makan bersama. Ritual ini dilakukan beberapa kali dalam setahun menurut penanggalan Islam sebagai wujud syukur.

Upacara Menyepi: Tradisi mengheningkan cipta dan berdoa bersama memohon keselamatan yang rutin dilaksanakan warga.

Untuk merencanakan kunjungan dan mengetahui panduan wisatawan, Anda dapat melihat informasi resminya melalui portal pariwisata daerah di Disparbud Jawa Barat.

Kampung Naga di Tasikmalaya itu kampung adat Sunda. Mereka punya aturan adat “pikukuh” yang cukup ketat buat pendatang/tamu. Intinya: jaga adat, jaga alam.

Larangan utama buat pendatang ke Kampung Naga:

1. Nggak boleh sombong/riuh – Harus sopan, bicara pelan, nggak teriak-teriak. Mereka pegang “silih asih, silih asuh, silih asah”.

2. Nggak boleh merusak/mengotori – Buang sampah sembarangan dilarang keras. Sampah harus dibawa pulang.

3. Nggak boleh pacaran/bermesraan di area kampung – Karena dianggap nggak pantas di area adat.

4. Nggak boleh pakai baju terbuka/seksi – Harus sopan, nutup aurat. Cewek disaranin pakai rok panjang kalau ada.

5. Nggak boleh bangun rumah model baru – Rumah warga harus panggung, atap ijuk, menghadap utara-selatan. Pendatang nggak boleh bangun rumah di situ.

6. Nggak boleh nebang pohon sembarangan – Hutan larangan “Leuweung Tutupan” mutlak nggak boleh disentuh. Itu sumber mata air.

7. Nggak boleh pakai listrik/elektronik di rumah warga – Rumah adat nggak ada colokan. HP boleh dipake, tapi ngecas harus di luar kampung.

8. Nggak boleh pakai alas kaki di area tertentu – Beberapa saung/area upacara harus lepas sandal.

9. Nggak boleh foto/video upacara sakral tanpa izin – Kayak Hajat Sasih, Ngarot. Tanya dulu ke sesepuh/kuncen.

10. Nggak boleh melangkahi barang/lesung – Dianggap nggak sopan banget.

11. Nggak boleh tunjuk orang pakai telunjuk – Pakai jempol/jemari semua.

12. Nggak boleh nginep kalau nggak izin sesepuh – Homestay ada, tapi harus lapor dulu.

13. Nggak boleh jualan/berdagang di dalam kampung – Area kampung cuma buat tinggal. Jualan di luar gapura.

Intinya: Kampung Naga tidak menolak tamu, tapi tamu harus “ngikut kaedah”. Mereka takut adat + alam rusak kalau aturannya dilanggar.

Kalau kamu mau main ke sana, tipsnya: lapor ke kuncen dulu, pakai baju sopan, jangan bawa plastik banyak, dan jangan expect sinyal/AC.

Info kunjung ke Kampung Naga, Tasikmalaya

Lokasi & Jam buka

Alamat: Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya. Sekitar 26 km dari pusat kota Tasik.

Jam: 08.00 – 17.00 WIB. Lewat jam 5 sore udah sepi + nggak ada penerangan listrik di kampung.

  1. Tiket masuk: Rp10.000 – Rp15.000/orang. Bayar ke pos retribusi.
  2. Parkir: Motor Rp3.000, Mobil Rp5.000
  3. Guide kuncen: Sukarela/uang tip Rp20.000 – Rp50.000. Saran pake guide biar paham sejarah + nggak salah aturan.
  4. Homestay: Kalau mau nginep ada 3-4 rumah warga yang buka homestay. Rp100.000 – Rp150.000/malam, udah sama makan. Nggak ada AC, listrik, air panas.

Etika wajib pas di sana

  1. Lapor dulu ke kuncen di gapura masuk sebelum muter-muter
  2. Pakai baju sopan – cowok kaos+celana panjang, cewek rok panjang + kerudung kalau bisa
  3. Lepas sandal kalau masuk saung/rumah adat
  4. Jangan bawa plastik kresek – bawa tumbler botol minum aja
  5. Jangan ngecas HP di rumah warga – colokan adanya di luar kampung/area parkir

Yang bisa dilakuin pengunjung

  1. Liat rumah adat panggung atap ijuk, kolongnya buat ternak
  2. Liat proses tenun manual warga
  3. Jembatan gantung + Sungai Ciwulan buat mandi – airnya dingin banget
  4. Beli souvenir: kerajinan bambu, tas anyam, gula aren asli
  5. Foto-foto – tapi tanya izin dulu kalau mau foto orangnya

Yang tidak boleh pengunjung

Tidak boleh pacaran alay, nggak boleh buang sampah, nggak boleh teriak-teriak.

Tips: Dateng pagi jam 8-9. Udara masih seger + nggak rame rombongan. Waktu perjalanan dari Bandung 3 jam, lokasi dari Tasikmalaya kota 45 menit. Berita ini dikutip dari berbagai sumber.