Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Fifi Aleyda Yahya, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola kerja ruang redaksi secara signifikan.
Menurutnya, teknologi kini memberikan banyak kemudahan, mulai dari pencarian informasi hingga proses produksi berita.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama ketika AI digunakan untuk mengolah informasi dan menulis berita.
Fifi mengingatkan, tulisan yang dihasilkan teknologi dapat terlihat rapi dan meyakinkan secara struktur. Namun, isi informasi tetap harus diperiksa kembali oleh jurnalis.
Ia mencontohkan pernah menemukan informasi mengenai seorang tokoh nasional yang berubah setelah diproses menggunakan teknologi. Tokoh yang sebenarnya hanya memiliki satu anak, justru disebut memiliki tiga anak.
“Jadi hal-hal tersebut yang harus kita benar-benar waspadai. Kita cek,” ujar Fifi.
Karena itu, ia menegaskan AI harus ditempatkan sebagai alat bantu kerja jurnalistik, bukan pengganti peran jurnalis dalam melakukan verifikasi dan memastikan kebenaran informasi.
Jaga Akurasi untuk Jaga Kepercayaan Publik
Perubahan teknologi juga membuat ritme ruang redaksi semakin cepat. Informasi yang sebelumnya berkembang dalam hitungan jam, kini dapat berubah hanya dalam hitungan menit, terutama melalui media sosial.
Kondisi tersebut membuat jurnalis dituntut adaptif. Namun, Fifi mengingatkan kecepatan pemberitaan tidak boleh mengorbankan akurasi karena kepercayaan publik merupakan modal utama media.
“Trust atau kepercayaan itu tidak lahir secara instan. Reputasi itu dibangun bertahun-tahun, bisa runtuh dalam waktu satu hari,” katanya.
Di tengah dominasi teknologi, Fifi juga menilai media lokal tetap memiliki kekuatan penting, yakni kedekatan dengan sumber informasi dan lokasi peristiwa atau proximity.
Kekuatan tersebut, menurutnya, harus tetap dipertahankan agar teknologi justru memperkuat kerja jurnalistik di lapangan, bukan menghilangkannya.
Rina: Pentingnya Fact Checking
Sementara itu, Wakil Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rina Nurjanah, menyoroti pentingnya kemampuan fact checking di tengah perkembangan AI.
Dalam sesi “Fact Checking in the Age of AI”, Rina menjelaskan bahwa masa depan pers tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Karena itu, jurnalis perlu memahami cara memanfaatkan AI sekaligus mengenali keterbatasannya.
Menurut Rina, teknologi dapat membantu mempercepat proses pemeriksaan informasi, termasuk dalam menelusuri sumber dan mengidentifikasi informasi yang perlu diverifikasi. Namun, keputusan akhir tetap berada pada jurnalis.
“AI dapat menjadi alat pendukung kerja jurnalistik, tetapi proses verifikasi tetap membutuhkan ketelitian dan penilaian manusia,” ujarnya.
Workshop tersebut membekali peserta dengan pemahaman mengenai teknik pengecekan fakta berbasis teknologi AI-powered fact-checking, sehingga jurnalis diharapkan lebih terampil mengenali informasi meragukan, menelusuri sumber, serta memastikan informasi sebelum dipublikasikan.
Talk show turut menghadirkan Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto, akademisi Achmad Abdul Basith, Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail, serta Rina Nurjanah.
Pesan utama kegiatan tersebut menegaskan bahwa teknologi akan terus mengubah wajah pers.
Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen jurnalis terhadap fakta.
Adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap kritis, terverifikasi, dan berpihak pada akurasi menjadi kunci menjaga kualitas serta kepercayaan publik terhadap pers.












