Kementerian Kebudayaan RI Dukung  Pengusulan Taufiq Ismail sebagai Kandidat Penerima Nobel Sastra 2027

KabarSunda.com- Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Konsolidasi Pengusulan Taufiq Ismail sebagai Kandidat Penerima Nobel Sastra 2027” melalui daring.

Kegiatan ini merupakan upaya Kementerian Kebudayaan dalam memfasilitasi serta mendukung inisiasi dari Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) dalam mengusung sastrawan dan penyair Taufiq Ismail menjadi kandidat penerima Nobel Sastra 2027.

Kegiatan ini dihadiri penuh antusias, di antaranya Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, sastrawan Taufiq Ismail, HISKI, perwakilan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di berbagai negara, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen, serta para sastrawan dan praktisi sastra Indonesia.

Saat membuka forum, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Annisa Rengganis sekaligus sebagai Ketua Tim Kerja Pengusulan Nobel Sastra 2027, menegaskan bahwa forum ini
bertujuan untuk membangun kesamaan pemahaman, menghimpun masukan, dukungan pemangku kepentingan, serta menyusun langkah strategis dalam
mendukung pengusulan dan promosi karya Taufiq Ismail di tingkat nasional maupun internasional.

“Sudah sejak bulan Juni 2026, kami membentuk tim kerja yang tergabung dari berbagai pihak (HISKI, Minang Diaspora, Komunitas Sastra, Kemenbud, Kemenlu) untuk sama-sama menyiapkan pengusulan sastrawan Taufiq Ismail sebagai nominator Nobel Sastra 2027. Salah satu di antaranya ialah pembuatan website resmi Taufiq Ismail yakni taufiqismail.id yang memuat biografi, daftar karya multibahasa, e-book kajian akademik, serta rekam jejak digital sastrawan Taufiq Ismail,” paparnya saat melaporkan berbagai hasil kerja yang sudah dilakukan oleh tim kerja sejak Juni 2026.

Endah T.D. Retno Astuti selaku Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, mempertegas bahwa upaya Kemenbud khususnya di DPKSK adalah dengan membangun jejaring Internasional dan berkomunikasi dengan Atdikbud, komunitas sastra global, serta akademisi luar negeri guna mendapatkan dukungan lintas negara.

“Kami dari Kementerian Kebudayaan memandang pengusulan Taufiq Ismail sebagai nominator Nobel Sastra sudah sangat layak. Ini didasarkan pada rekam jejak kepenyairannya yang dinilai memiliki bobot estetis, dampak sosial, dan signifikansi kultural yang setara dengan para pemenang Hadiah Nobel Sastra tingkat dunia,” pungkasnya.

Forum Diskusi “Dari Indonesia untuk Dunia: Menguatkan Dukungan bagi Taufiq Ismail Menuju Nobel Sastra. Forum diskusi yang bertajug “Dari Indonesia untuk Dunia: Menguatkan Dukungan bagi Tafiq Ismail Menuju Nobel Sastra” menjadi penutup rangkaian kegiatan Sosialisasi dan Konsolidasi Pengusulan Taufiq Ismail sebagai Nobel Sastra.

Forum diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Maman S Mahayana (Sastrawan dan Kritikus Sastra) dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti (Akademisi Sastra dan Ketua Umum HISKI), dan dimoderatori oleh Dr. Sastri Sunarti Sweeney (Bidang Kerja Sama HISKI).

Maman S Mahayana mengawali forum dengan menyampaikan bahwa Taufiq Ismail merupakan satu-satunya penyair di Asia Tenggara yang kiprah kepenyairannya begitu panjang. Bahkan konsisten menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan melalui puisi dan gerakan sastra, di antaranya terlibat aktif mengasuh majalah sastra Horison dan program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya.

“Puisi-puisinya kritis dan satiris dalam menyoroti berbagai aspek kehidupan berbangsa: mewakili suara masyarakat, populer dan hidup di berbagai kalangan masyarakat,” tegas Maman S Mahayana.

Sementara itu, Novi Anoegrajekti menambahkan bahwa salah satu alasan HISKI mengusung Taufiq Ismail menjadi kandidat penerima Nobel Sastra, adalah karena puisi-puisinya telah menjadi sumber inspirasi yang dialihwahanakan melalui musikalisasi puisi, pembacaan puisi, penelitian sastra, dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 10 bahasa (termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Mandarin, dan Arab).

Dalam upaya strategis pengusungan tersebut, HISKI sedang menyiapkan penerbitan buku antologi kajian bersama mengenai karya-karya dan kiprah Taufiq Ismail, diisi oleh 50 Profesor, 25 Doktor, dan 5 magister.

Selain itu, sejak Juni 2026, HISKI telah mendapatkan berbagai poster dukungan dari berbagai lembaga dan komunitas sastra, serta menggelar berbagai webinar sastra yang membicarakan karya-karya Taufiq Ismail. Upaya ini diharapkan memperkuat diseminasi karya-karya Taufiq Ismail semakin meluas dalam lingkup nasional maupun internasional.

Saat sesi diskusi dibuka, berbagai perwakilan Atikbud semuanya bersuara sama, bahwa Taufiq Ismail layak diusung menjadi kandidat penerima Nobel Sastra. Salah satunya dari perwakilan Atikbud Kairo, Abdul Mutaali, menyatakan bahwa puisi-puisi Taufiq Ismail merupakan salah satu materi yang dipelajari di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Mesir.

Sebelum sesi diskusi selesai, beberapa perwakilan Atdikbud lain dan beberapa praktisi sastrawan yang hadir dalam forum antusias saling memberikan berbagai pandangan dan masukan positif untuk memperkuat langkah-langkah strategis dalam mengamplifikasi upaya pengusungan Taufiq Ismail sebagai kandidat peraih Nobel Sastra 2027.