KabarSunda.com- Dewan Pimpinan Pusat (DPP) XTC Indonesia Bidang Pendidikan terus melakukan sorotan serius terkait belum meratanya pembangunan infrastruktur sekolah negeri di berbagai Kota dan Kabupaten di Indonesia.
Hal ini akan menjadi bom waktu yang setiap saat meledak, terutama tahun ajaran baru. Ini terbukti saat Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dari berbagai daerah, hal tersebut dikatakan DPP XTC Indonesia Bidang Pendidikan Kang Ogi kepada Media, Senin (12/10/2026).
Menurut Kang Ogi, “Pemerataan pembangunan sekolah di semua kota dan kabupaten harus segera diselesaikan. Jangan sampai kejadian seperti SPMB sebelumnya terulang. Karena ada salah satu daerah yang tidak ada sekolah negeri dan akhirnya warganya terpaksa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta dengan biaya yang memberatkan.”
Kami menilai, sistem SPMB yang dirancang oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dengan skema zonasi/domisili tidak akan pernah berkeadilan apabila ketersediaan sekolah negerinya sendiri timpang.tegas Ogi.
Tidak hanya itu, Kang Ogi menunjukan bukti, diantaranya:
Masih banyak kecamatan yang merupakan “blank spot” atau tidak memiliki SMP Negeri dan SMA/SMK Negeri. Warga di wilayah tersebut secara sistematis terdiskriminasi dan dipaksa menjadi “korban” karena harus ke swasta.
Ini bertentangan dengan amanat UUD 1945 Pasal 31 bahwa setiap warga berhak mendapat pendidikan dan negara wajib membiayainya.
Oleh karena itu, DPP XTC Indonesia menyatakan sikap:
- Mendesak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI untuk segera melakukan audit nasional sebaran sekolah negeri dan memprioritaskan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) di wilayah blank spot pada APBN 2026-2027.
- Mendesak agar skema SPMB 2026 dievaluasi total, dengan memberikan afirmasi khusus berupa subsidi penuh atau beasiswa bagi siswa di wilayah yang tidak ada sekolah negerinya yang terpaksa ke swasta, bukan hanya sekadar wacana.
- Mengingatkan bahwa pemerataan pendidikan adalah kunci pencegahan kenakalan remaja, tawuran, dan putus sekolah – isu yang selama ini menjadi fokus pembinaan DPP XTC Indonesia di 27 Provinsi.
Kami dari organisasi kepemudaan yang lahir dari akar rumput dan kini bertransformasi menjadi organisasi yang fokus pada pendidikan karakter, merasakan langsung keluhan orang tua di lapangan. Negara tidak boleh kalah dan tidak boleh abai.












