KabarSunda.com- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan insentif untuk bidan pendamping yang berhasil menciptakan nol kasus kematian ibu dan bayi serta tengkes (stunting) di desanya.
Hal tersebut sebagai stimulus agar kasus kematian tersebut turun ke angka empat persen pada tahun 2025.
Pasalnya, Jabar menyumbang 17 persen dari total kasus secara nasional.
“Kepala desanya nanti kami kasih bonus, ketua PKK-nya bergerak. Ini akan menjadi prioritas kami di tahun ini sehingga ke depan anak-anak Jabar sehat, baik yang balita maupun usia remaja, bahkan orangtuanya juga harus sehat,” kata Dedi dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 11 Juni 2025.
Dedi Mulyadi mengatakan, total angka kematian ibu di Jabar mencapai 4.700 kasus.
Sementara itu, kematian bayi secara nasional mencapai 34.000 kasus per tahun.
Untuk merealisasikan target tersebut, dia mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar untuk bergerak menyiapkan langkah strategis, salah satunya memberikan bonus kepada sejumlah pihak yang terlibat.
Dia menegaskan, tahap pertama ialah dengan pembangunan kualitas manusianya.
“Cageur pikirana (sehat pikirannya), cageur hatena (sehat hatinya). Kalau sehat, nanti bisa bageur (baik), pinter (cerdas), singer (terampil),” kata Dedi.
Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, bersama Pemprov Jabar, akan menjalankan proyek percontohan penanganan kasus kematian ibu dan anak di Kabupaten Bogor, Bandung, dan Garut.
Dia menerangkan, dalam pelaksanaannya, program ini akan melibatkan lintas fasilitas kesehatan mulai dari Puskesmas, bidan desa, klinik, dan rumah sakit.
“Dalam tiga bulan kami evaluasi dan akan direplikasi ke daerah lain jika berhasil,” ucap Budi.
Budi menambahkan, selain penurunan angka kematian, Jabar juga mencatatkan penurunan signifikan pada angka tengkes dari 21 persen menjadi 15,9 persen.
“Jabar itu turun dari 21 persen ke 15,9 persen, secara nasional semua turun. Jadi, saya bilang, Pak Gub terima kasih, cuma kalau bisa ditambah. Kalau bisa di bawah 10 persen gitu. Pak Gub ingin lebih bagus lagi dari itu karena kalau Jabar bisa di bawah 10 persen, itu nasional pasti akan turun di bawah 15 persen,” tuturnya.











