KabarSunda.com- Komoditas perkebunan rakyat seperti kakao, kopi, dan pinang memainkan peran penting dalam perekonomian perdesaan dan nasional. Komoditas ini bukan hanya menjadi sumber pendapatan utama bagi jutaan petani kecil, tetapi juga menyediakan lapangan kerja, mendorong tumbuhnya industri hilir, serta berkontribusi terhadap devisa negara melalui ekspor.
“Dengan meningkatnya daya beli petani, maka akses mereka terhadap pangan, pendidikan, dan kesehatan juga meningkat, secara tidak langsung memperkuat pilar aksesibilitas dalam ketahanan pangan nasional,” ujar Puji Lestari Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam webinar EstCrops_Corner #15 yang dihelat Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), BRIN.
Lebih lanjut Puji menjelaskan bahwa dalam era disrupsi iklim dan ekonomi global, pengembangan komoditas perkebunan rakyat di lahan suboptimal menjadi peluang strategis. Inovasi teknologi agronomi seperti ameliorasi tanah, varietas adaptif, sistem agroforestri, dan pengelolaan air berbasis konservasi telah terbukti meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani di berbagai wilayah.
Di samping itu, berbagai program pemerintah seperti peremajaan tanaman perkebunan rakyat, sertifikasi indikasi geografis, insentif usaha tani, serta penyediaan bibit unggul dan pelatihan teknis menjadi dukungan penting dalam penguatan kapasitas petani. Selain itu peluang ekonomi dan pasar juga menjanjikan.
“Pendekatan integratif antara inovasi teknologi, kebijakan publik, dan pemberdayaan kelembagaan petani, pengembangan kakao, kopi, dan pinang di lahan suboptimal tidak hanya menjadi solusi atas keterbatasan lahan produktif, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi perdesaan yang resilien dan kontributor nyata terhadap ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Senada dengan hal tersebut Setiari Marwanto selaku Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN mengatakan, bahwa lahan sub optimal secara alami memiliki produktivitas rendah atau kondisi yang tidak ideal untuk pertanian.
“Faktor penyebabnya dibagi dua, yaitu pertama, internal seperti sifat fisik tanah, kimia. Kedua, eksternal antara lain iklim. Lahan sub optimal contohnya, lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa lebak dan lahan gambut,” jelasnya.
Luas lahan sub optimal Indonesia tercatat 149,5 juta hektar atau 78,2 persen dari seluruh luas daratan Indonesia. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan produk pertanian pemanfaatan lahan sub optimal menjadi keadaan yang pasti untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Pemanfaatan ini membutuhkan inovasi teknologi dan pengelolan yang tepat untuk mengatasi kendala yang ada pada masing-masing jenis lahan.
Sementara itu narasumber Busyra B. Saidi, Peneliti Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN menjelaskan Optimalisasi Lahan Suboptimal untuk Pengembangan Komoditas Perkebunan Rakyat (Kakao, Kopi dan Pinang).
Menurutnya, lahan suboptimal adalah lahan yang karena kondisi fisik dan faktor iklim tidak dapat memberikan hasil produksi pertanian yang maksimal. Potensi dataran Indonesia yang cukup luas terdiri dari beberapa jenis lahan suboptimal yaitu lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa, dan lahan gambut.
“Penyebaran lahan suboptimal di Indonesia tersebar terutama di daerah Sumatera, Kalimantan dan pinggiran-pinggiran pantai. Urgensi optimalisasi lahan suboptimal antara lain alih fungsi lahan produktif, kesejahteraan petani, ketahanan pangan,” terangnya.
Dirinya mengatakan, bahwa Indonesia adalah produsen kakao terbesar ke-3 dunia dengan produksi lebih dari 650.000 ton pertahun. Sentra produksi utama berada di Sulawesi, Papua, Sumatera.
Salah satu teknologi pengembangan kopi di lahan suboptimal yaitu agroforestri kopi dengan pinang manfaatnya yaitu meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi evaporasi, konservasi air, meningkatkan keanekaragaman hayati, menyerap karbon, dan diversifikasi produksi.
Ia juga menyimpulkan, bahwa lahan suboptimal yang selama ini di pandang sebagai keterbatasan, menyimpan potensi strategis sebagai tumpuan baru bagi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi pedesaan.
“Komoditas kakao, kopi, dan pinang telah terbukti sebagai tanaman unggulan rakyat yang mampu tumbuh baik di lahan suboptimal, serta memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar domestik maupun ekspor,” pungkasnya.











