KabarSunda.com- Tingginya volume kendaraan bermotor di Kabupaten Bandung Barat (KBB) telah lama menjadi pemicu kemacetan kronis, terutama di kawasan strategis Padalarang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, jumlah kendaraan di KBB telah mencapai 658.190 unit, didominasi oleh 561.092 unit motor.
Lonjakan angka ini secara langsung membebani ruas jalan utama yang tidak bertambah.
Ruas Jalan Raya Padalarang, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas dari berbagai wilayah, termasuk akses menuju Ibu Kota KBB di Ngamprah, selama ini menjadi simpul kemacetan paling rawan.
Namun, masalah pelik ini diklaim bakal segera terurai menyusul adanya kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan pengembang properti, Kota Baru Parahyangan (KBP).
Kolaborasi Pemprov Jabar dan KBP
Solusi yang ditempuh adalah pembangunan dua akses jalan baru: Jalan Lingkar Padalarang – Cipatat dan Jalan Akses Kota Baru Parahyangan-Stasiun Kereta Cepat Whoosh Padalarang.
Pembangunan ini diproyeksikan dapat mendistribusikan lalu lintas secara signifikan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa pembangunan akses ini adalah langkah wajib mengingat kemacetan di kawasan Padalarang tak pernah terselesaikan.
“Kemacetan di kawasan tersebut sudah tak terhindarkan lagi. Harus ada solusi permanen. Karena itu, kami sepakat dengan pengembang untuk skema pembebasan lahan dilakukan oleh Pemprov Jabar,” jelas Dedi Mulyadi.
Ia menambahkan, jalur baru ini, yang meliputi rute dari Stasiun Kereta Cepat Whoosh ke KBP dan dari Cipatat menuju Padalarang, akan terbuka untuk umum, baik kendaraan pribadi maupun transportasi publik.
Anggaran dan Skema Pembangunan
Gubernur yang akrab disapa KDM ini menyebutkan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk pembebasan lahan (Lahan Acquisition) diperkirakan mencapai sekitar Rp 150 miliar.
Menariknya, seluruh pembangunan fisik infrastruktur jalan akan ditanggung langsung oleh pihak Kota Baru Parahyangan, tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Skema kemitraan ini memastikan proyek tetap berjalan tanpa membebani kas daerah.
Kepala Bappeda Jabar, Dedi Mulyadi, merinci bahwa pembangunan akses ini mencakup beberapa segmen krusial:
-
Akses Tol Padalarang menuju Stasiun Whoosh sepanjang 900 meter (kurang dari 1 kilometer).
-
Akses Jalan Lingkar dari Padalarang ke Cipatat melalui KBP sepanjang 13,5 kilometer.
“Saat ini akses Cipatat-Padalarang sudah terbangun 7,5 kilometer. Kita tinggal fokus membebaskan sisa lahan sepanjang 6 kilometer lagi,” kata Kepala Bappeda Jabar.
Target Pembebasan Lahan dan Mulai Konstruksi 2026
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyambut baik terobosan ini dan menegaskan dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Ia mengakui bahwa kajian mengenai pembebasan lahan untuk jalan lingkar sudah berlangsung lama, namun baru bisa terlaksana berkat kebijakan dan dukungan penuh dari Gubernur Jabar, KDM.
Mengutip laman resmi DBMPR Jabar, rencana pembebasan lahan Jalan Lingkar Padalarang – Cipatat ditargetkan akan dimulai pada akhir tahun 2025.
Setelah lahan tuntas dibebaskan, proyek fisik pembangunan infrastruktur diharapkan sudah bisa mulai dikerjakan pada awal tahun 2026.
Dengan skema yang seluruhnya dibiayai pihak ketiga untuk pengerjaan fisik, sementara pemerintah fokus pada penyediaan lahan, diharapkan proyek penanganan kemacetan krusial di KBB ini dapat terealisasi tepat waktu dan segera memberikan dampak positif bagi mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal.











