KabarSunda.com- Dosen dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah, mengatakan komet 3I/Atlas yang sedang menjadi sorotan di dunia maya disebut objek antarbintang terbentuk di luar Tata Surya.
Objek antarbintang ketiga yang berhasil dikonfirmasi, setelah 1I/Oumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019 itu viral karena dikhawatirkan berpengaruh ke Bumi, bahkan sempet disangka sebagai pesawat alien.
“Temuan ini mengingatkan kita bahwa Tata Surya bukan sistem yang tertutup, melainkan bagian dari lingkungan galaksi yang dinamis,” kata Izatul melalui keterangan tertulis, Selasa, 11 November 2025.
Objek 3I/Atlas kemungkinan terbentuk di awal sejarah pembentukan sistem bintang. Pada fase awal pembentukan bintang dan planet, dia menjelaskan, terdapat banyak bongkahan es atau batuan yang dapat terlempar keluar dari sistem asalnya akibat interaksi gravitasi. Benda tersebut kemudian berkelana di ruang antarbintang dalam waktu yang sangat lama.
Secara ilmiah, Izatul meneruskan, penemuan objek antarbintang seperti 3I/Atlas tidak secara langsung menjelaskan dinamika galaksi secara keseluruhan, namun memberikan bukti penting ihwal pertukaran material antarsistem bintang di Galaksi Bima Sakti. Penemuan 3I. Atlas mengindikasikan bahwa ruang antarbintang masih menyimpan banyak misteri.
Profesor riset astronomi dan astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin sebelumnya menyatakan astronom tidak akan berspekulasi tentang objek langit di luar interpretasi fisis hasil observasi.
Menurut dia, perjalanan Komet 3I/Atlas yang mendekati matahari, dengan laju yang ditaksir sekitar 215 ribu kilometer per jam, tidak membahayakan Bumi maupun planet-planet lain di jagat tata surya.
Penduduk bumi bisa menyaksikan komet itu di angkasa. Namun, pada Oktober sampai November, Komet 3I/Atlas berada di arah matahari sehingga tidak bisa diamati.
“Desember baru bisa diamati lagi sebelum semakin redup karena bergerak menjauh,” ujar Thomas pada 30 Oktober 2025.
Seperti Apa Wujud Komet 3I/Atlas?
Komet ini terpantau memiliki kepala atau disebut koma yang terdiri dari debu dan gas. Besarnya sempat diperkirakan sekitar 25 ribu kilometer atau sekitar dua kali diameter Bumi.
Namun, berdasarkan taksiran terbaru, ukuran komet itu jauh lebih besar hingga bergaris tengah 700 ribu kilometer. Rasionya bisa seukuran separuh matahari atau lima kali lipat diameter planet raksasa Jupiter.
Umur komet yang berasal dari bidang Galaksi Bimasakti itu diperkirakan sekitar 7 miliar tahun atau lebih tua daripada umur Tata Surya yang 4,5 miliar tahun. Keunikan lain 3I/Atlas adalah bentuk orbitnya yang hiperbolik, bukan elips atau lonjong seperti kebanyakan komet lainnya.













