LSPR Institute-Bank Sampah AKKOM Ajak Generasi Muda Menjadi Penggerak Green Economy

LSPR Institute of Communication & Business bersama Bank Sampah AKKOM memperkuat kolaborasi dalam membangun kapasitas generasi muda melalui edukasi Green Economy, Green Jobs, dan Ekonomi Sirkular.

KabarSunda.com– LSPR Institute of Communication & Business bersama Bank Sampah AKKOM (Akademi Kompos) memperkuat kolaborasi dalam membangun kapasitas generasi muda melalui edukasi Green Economy, Green Jobs, dan Ekonomi Sirkular.

Kegiatan ini mengajak peserta memahami bahwa transisi menuju ekonomi hijau bukan hanya menjadi solusi atas krisis lingkungan global, tetapi juga membuka peluang karier, kewirausahaan, dan inovasi yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai tantangan tiga krisis planet (perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi) serta pentingnya ekonomi sirkular sebagai model pembangunan masa depan.

Materi juga memperlihatkan berbagai peluang green jobs di berbagai sektor, mulai dari keuangan, teknologi informasi, konstruksi, energi, pertanian, pendidikan, manufaktur, hingga kesehatan, yang diproyeksikan menjadi kebutuhan utama dalam ekonomi rendah karbon.

Dr Indra Ardiyanto MI Kom, dosen LSPR Institute of Communication & Business, menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan generasi muda yang memiliki kompetensi hijau sekaligus kemampuan komunikasi yang kuat.

“Generasi muda tidak cukup hanya peduli terhadap lingkungan. Mereka perlu memiliki green skills, kemampuan berkolaborasi, dan inovasi agar mampu menciptakan solusi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Green economy adalah peluang besar bagi masa depan Indonesia.”

Selain memahami konsep ekonomi hijau, peserta juga diperkenalkan pada ekosistem Green Jobs yang dikembangkan Bank Sampah AKKOM, meliputi pengelolaan bank sampah, edukasi lingkungan, komposting, pertanian organik, pengembangan produk ramah lingkungan, marketplace berkelanjutan, pemanfaatan teknologi digital, artificial intelligence, Internet of Things (IoT), hingga pengembangan permainan edukatif berbasis lingkungan.

Andito Dwi Pratomo ST M Sc, Ketua Muda Bank Sampah AKKOM, menjelaskan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau harus dimulai dari perubahan cara berpikir masyarakat terhadap sampah.

“Sampah bukan akhir dari sebuah produk, tetapi awal dari lahirnya nilai ekonomi baru. Ketika masyarakat mampu mengelola sampah menjadi kompos, produk daur ulang, maupun usaha berbasis ekonomi sirkular, maka kita sedang menciptakan lapangan kerja hijau sekaligus menjaga lingkungan.”

Rangkaian kegiatan juga mencakup praktik pemilahan sampah dari sumbernya, pembuatan kompos, biopori, biowash, jus probiotik, hingga diskusi mengenai implementasi prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace, Replant) sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Peserta diajak melihat bagaimana inovasi sederhana dapat menciptakan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat, LSPR Institute dan Bank Sampah AKKOM berharap dapat memperkuat literasi keberlanjutan, meningkatkan kesiapan generasi muda menghadapi transisi ekonomi hijau, serta melahirkan lebih banyak inovator dan wirausahawan yang berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4, SDG 8, SDG 11, SDG 12, dan SDG 13.