Budaya  

Lestarikan Bahasa Ibu, Ajak Generasi Muda Mencintai Bahasa Sunda

KabarSunda.com- Hotel Horison Bandung pagi itu dipenuhi suara tawa anak-anak berpakaian pangsi dan kebaya.

Di tangan mereka, lembar naskah dongeng dan aksara Sunda tampak bergetar lembut — bukan karena gugup semata, tetapi karena ada kebanggaan yang tumbuh di dada.

Kota Bandung resmi menjadi tuan rumah Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025, ajang tahunan yang menyalakan kembali semangat mencintai bahasa Sunda di kalangan generasi muda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, berdiri di panggung pembukaan dengan ekspresi yang tak sekadar formal.

Di hadapan ratusan siswa SD dan SMP se-Jawa Barat, ia menyebut bahasa ibu sebagai “cicirén bangsa”— tanda hidupnya jati diri. “Leungit basana, leungit bangsana,” katanya, mengutip pepatah Sunda lama.

Kalimat itu menggema, seolah menegaskan bahwa menjaga bahasa ibu berarti menjaga nyawa kebudayaan itu sendiri.

Farhan tahu, Bandung bukan kota yang steril dari perubahan. Arus globalisasi, gaya hidup modern, dan bahasa media sosial kerap membuat anak-anak lebih akrab dengan istilah asing ketimbang sapaan “punten” atau “hatur nuhun”.

Namun di tengah perubahan itu, ia ingin menanamkan kesadaran bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang keintiman antara generasi.

Di festival ini, suasana terasa seperti perjalanan pulang ke akar. Anak-anak bertanding membaca pupuh, menulis aksara Sunda, hingga beradu dongeng.

Sorot mata mereka menunjukkan bahwa bahasa ibu bukan beban pelajaran, melainkan kebanggaan. Di sela lomba, musik karawitan menggema, membawa aroma nostalgia masa kecil di rumah nenek di kampung.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Gufron, menyebut festival ini bukan hanya lomba, tapi bagian dari gerakan budaya.

Ia menegaskan setiap sekolah wajib ikut serta agar bahasa Sunda tak sekadar hidup di ruang kelas, tetapi juga di hati murid-muridnya.

Program seperti “Kamis Nyunda” dan penggunaan pakaian pangsi menjadi langkah kecil yang terus dijaga. “Kalau sudah pakai pangsi, otomatis bahasanya pun harus Sunda,” ujarnya.

Di sela keramaian, beberapa guru terlihat bangga. Mereka melihat murid-murid yang dulu enggan berbahasa Sunda kini dengan lantang berpidato dalam bahasa ibu.

Di sudut ruangan, stan pameran literasi menampilkan buku cerita, karya tulis, dan aksara hanacaraka yang dirangkai dengan warna cerah. Semua terasa seperti perayaan atas sesuatu yang hampir terlupakan.

Bagi Kota Bandung, menjadi tuan rumah FTBI 2025 bukan sekadar soal prestise, tetapi tanggung jawab moral sebagai pusat budaya Sunda. Dari panggung kecil di hotel itu, pesan besar bergema: modernitas boleh melesat, tapi akar budaya tak boleh tercabut.

Bahasa ibu mungkin terdengar sederhana, tapi di sanalah tempat manusia pertama kali belajar mencinta — pada orang tua, pada tanah, pada dirinya sendiri. Dan di Bandung hari itu, cinta itu berbicara dalam bahasa Sunda.