Dosen Unpad Dinobatkan sebagai Periset Muda Terbaik Indonesia 2025

Dr. Buntora Pasaribu, meraih penghargaan YRA 2025 kategori Dosen pada penghargaan yang diselenggarakan oleh PPI dan BRIN di Jakarta, Selasa 16 Desember 2025. (Foto Dit. Pemasaran Unpad)

KabarSunda.com-  Dr. Buntora Pasaribu, dosen HQT Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran, berhasil menembus persaingan global dan meraih Young Researcher Award (YRA) 2025 kategori dosen, penghargaan prestisius dari Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Prestasi ini menjadi tonggak kebanggaan bagi riset Indonesia, sekaligus bukti bahwa dedikasi dan inovasi mampu mengantarkan karya ilmiah menembus panggung internasional.

Puncak Penganugerahan Young Researcher Award 2025 digelar pada Selasa, 16 Desember 2025, di Ball Room BRIN, Jakarta, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi para periset muda Indonesia yang telah membuktikan bahwa kerja ilmiah yang konsisten mampu menembus batas pengakuan nasional dan internasional.

Penghargaan diserahkan oleh Kepala BRIN, Prof. Arief Satria.

Sebelum kembali ke tanah air, Buntora bekerja sebagai postdoctoral associate di Amerika Serikat, melanjutkan riset pemenang Wolf Prize, yang dikenal sebagai Nobel Prize bidang Pertanian, dengan misi memetakan kode genetik tanaman air untuk energi terbarukan.

Keberhasilan Buntora kini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi dunia, menjadi modal berharga yang memperkaya riset kelautan dan energi terbarukan di Indonesia.

Dengan total sekitar 14.000 peneliti muda Indonesia pada tahun 2020, YRA 2025 berhasil menarik ratusan pendaftar dari dalam dan luar negeri sebelum akhirnya mengerucut pada 23 finalis terbaik, yang berasal dari sektor krusial pertanian, kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan.

Keunggulan Dr. Buntora terletak pada konsistensinya mengembangkan riset kesehatan laut Indonesia melalui pendekatan molekular dan multidisipliner, yang mengaitkan isu energi, sumber daya air, polusi, hingga sekuester karbon laut.

“Pendekatan lintas-organisme dan multidisipliner ini membuka perspektif baru dalam memahami respons dan adaptasi ekosistem laut dangkal, sekaligus memperkuat posisi riset kelautan Indonesia di tingkat nasional dan internasional,” ujar Buntora.

Setelah melewati tiga tahap seleksi yang ketat, capaian ini menjadi pengakuan atas ketekunan dan arah riset yang dibangun secara berkelanjutan. Bagi PPI, kontribusi ilmiah Dr. Buntora mencerminkan wajah baru riset Indonesia yang kritis, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan masa depan.

Prestasi Dr. Buntora Pasaribu bukan menjadi sekadar kebanggaan Universitas Padjadjaran, tetapi juga inspirasi bagi generasi peneliti muda Indonesia, menegaskan bahwa riset inovatif dan berdampak mampu membawa Indonesia bersinar di panggung dunia.

Buntora yang fokus pada biosistem laut dangkal di departemen ilmu kelautan, menyatakan riset yang nobel harus didukung infrastruktur, tim, dan sistem yang bagus. Tanpa itu, periset tidak dapat membuat hal-hal yang baru.

Di Indonesia, kesempatan untuk menjadi “nobel person” sangatlah tinggi karea kompleksitas lingkungan dan sistem sosial.