KabarSunda.com- Varian virus Influenza A (H3N2) subklade K atau yang dikenal sebagai “super flu”, telah terdeteksi di Indonesia dengan total 62 kasus.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, sebaran kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat dengan mayoritas pasien yang terinfeksi merupakan perempuan.
Virus ini cepat menyebar dan memicu lonjakan kasus di sejumlah negara, dikutip dari NBC News, 31 Desember 2025.
Influenza tipe A Subclade K pertama kali terdeteksi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Agustus 2025 dan hingga kini dilaporkan telah menyebar ke lebih dari 80 negara.
Secara umum, super flu menimbulkan gejala yang mirip dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Namun, pada kelompok tertentu, infeksinya dapat berkembang menjadi lebih berat.
Kelompok yang rentan terinfeksi super flu
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menjelaskan, super flu merupakan istilah populer yang digunakan media dan masyarakat untuk menyebut subklade K, turunan dari virus Influenza A (H3N2).
Ia menegaskan, istilah super flu tidak dikenal dalam terminologi medis dan lebih digunakan untuk sebutan awam dalam menggambarkan varian influenza yang dinilai lebih agresif dan mudah menyebar.
“Super flu itu sebenarnya istilah yang disematkan media dan masyarakat. Secara ilmiah, ini adalah subklade K dari Influenza A H3N2,” ujar Dicky dikutip dari Kompas.com pada Jumat, 2 Januari 2026.
Menurut Dicky, ada beberapa alasan mengapa subklade K kemudian dijuluki sebagai super flu. Salah satunya karena lonjakan kasus terjadi lebih cepat dibandingkan pola influenza musiman pada umumnya.
“Biasanya influenza meningkat di musim dingin. Namun subklade K ini muncul lebih awal, sekitar satu bulan atau dua hingga tiga minggu dari siklus biasanya,” kata dia.
Selain itu, kata Dicky, risiko tertinggi infeksi subklade K terdapat pada kelompok rentan, yang meliputi:
- Lansia berusia di atas 65 tahun
- Orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan imunitas
- Bayi dan anak di bawah dua tahun.
“Pada kelompok ini, risikonya lebih besar. Banyak yang harus dirawat di rumah sakit dengan durasi rawat inap yang lebih lama, rata-rata tujuh hingga 14 hari,” ucap Dicky.
Ia juga menilai, kondisi tersebut menjadi alasan lain mengapa subklade K tidak bisa dianggap sebagai flu biasa, meskipun istilah “super flu” sendiri tidak sepenuhnya tepat secara medis.
Apa saja gejala super flu?
Lebih lanjut, Dicky juga memaparkan gejala super flu yang dinilai lebih berat, terutama pada kelompok rentan.
Selain itu, infeksi subklade K ini juga dapat menimbulkan keluhan yang lebih jelas dibandingkan flu musiman pada umumnya.
“Gejalanya lebih kentara, batuk berlangsung lebih lama, dahak lebih banyak, serta nyeri menelan yang lebih parah,” kata Dicky.
“Pada lansia dan anak di bawah lima tahun, infeksinya bisa jauh lebih berat,” sambungnya.
Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa tingkat kematian akibat subklade K masih jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19 pada awal pandemi.
“Secara global memang sudah jutaan orang terinfeksi dan ratusan ribu mengalami kondisi berat. Namun angka kematiannya masih jauh di bawah Covid-19,” ujarnya.
Vaksinisasi diperlukan
Menurut Dicky, salah satu tantangan utama dalam menghadapi penyebaran influenza, termasuk subklade K, adalah rendahnya cakupan vaksin, khususnya di Indonesia.
“Literasi vaksin influenza di Indonesia masih sangat rendah. Akibatnya, kekebalan komunal tidak terbentuk dengan baik sehingga virus lebih mudah bersirkulasi dan menginfeksi,” katanya.
Padahal, vaksin influenza berperan penting dalam menurunkan risiko keparahan dan kematian, terutama pada kelompok berisiko tinggi.
“Vaksin bukan hanya melindungi individu, tetapi juga menjadi penghalang penularan ke kelompok rentan,” tambahnya.
Menghadapi potensi peningkatan kasus di awal tahun, Dicky mengimbau masyarakat—terutama kelompok rentan, untuk segera melakukan vaksinasi influenza.
“Untuk lansia di atas 65 tahun, vaksinasi masih sangat dianjurkan dan belum terlambat,” ucapnya.
Selain vaksinasi, ia juga mengingatkan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama di tengah musim hujan serta tingginya mobilitas masyarakat selama liburan.
“Kalau sedang sakit, sebaiknya tetap di rumah. Hindari kontak dengan bayi, lansia, dan orang dengan komorbid. Lindungi keluarga yang rentan,” pungkasnya.











