KabarSunda.com – Dalam sebuah ulasan mendalam mengenai Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, M. Nur Kholis Setiawan membedah Hikmah ke-21 yang mengandung pesan kuat tentang tata krama seorang hamba di hadapan Sang Pencipta. Penjelasan ini menjadi panduan penting bagi para penempuh jalan spiritual (salik) untuk mengukur sejauh mana kualitas kedekatan dan pengenalan mereka terhadap Allah SWT.
Menurut M. Nur Kholis Setiawan, terdapat empat pilar utama yang harus diwujudkan dalam proses mendekatkan diri kepada Allah agar perjalanan spiritual tersebut tetap berada pada jalur yang benar,. Keempat prinsip tersebut disajikan sebagai strategi agar seorang hamba tidak terjebak pada formalitas ibadah semata.
Empat Prinsip Utama Menuju Allah
Berdasarkan penjelasan M. Nur Kholis Setiawan, berikut adalah empat prinsip yang harus dipegang teguh:
Fokus: Seorang hamba harus memiliki tujuan yang tunggal, yaitu wusul atau sampai kepada Allah. Fokus ini penting agar seorang salik tidak mudah teralihkan oleh godaan fenomena spiritual seperti karomah atau terbukanya hijab yang sering kali justru menjadi ujian.
Kontinu: Kedekatan kepada Allah tidak bisa diraih secara instan, melainkan melalui proses yang dilakukan terus-menerus tanpa kenal henti. Pemanfaatan waktu secara maksimal merupakan bentuk nyata dari kesinambungan ini.
Istiqomah: Prinsip ini menekankan pada keteguhan hati untuk tetap berada di jalan Allah dalam situasi apa pun. Istiqomah menjadi kunci agar amal perbuatan tidak hanya menjadi letupan semangat sesaat.
Proporsional: M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya menempatkan diri sesuai dengan posisi dan otoritas yang dimiliki. Setiap tindakan harus disesuaikan dengan kapasitas diri masing-masing sebagai sarana ibadah yang tepat sasaran.
Terkait prinsip-prinsip tersebut, M. Nur Kholis Setiawan menyatakan dalam videonya:
“Fokus kita tentu tujuannya adalah kita bisa wusul kepada Allah… kontinu, terus menerus kita lakukan tidak kenal henti dan menggunakan waktu semaksimal mungkin sebagai bentuk muhasabah.”
Sindiran Halus dalam Berdoa dan Menuntut
Melalui bait-bait Al-Hikam, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan adanya “sindiran halus” bagi mereka yang terlalu banyak menuntut kepada Allah. Menuntut Allah untuk memberikan sesuatu dianggap sebagai bentuk kecurigaan bahwa Allah tidak akan memberikan anugerah-Nya. Mengenai hal ini, M. Nur Kholis Setiawan menegaskan:
“Permintaanmu terhadap Allah, tuntutanmu terhadap Allah itu artinya kamu curiga kepada Allah, seolah-olah Allah tidak memberikan anugerah kepada kita.”
Analogi yang digunakan adalah seperti seorang anak kecil yang terus-menerus meminta es krim kepada orang tuanya saat berada di pasar. Hal tersebut secara tersirat menunjukkan ketidakyakinan bahwa orang tuanya akan memberikan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, daripada menyibukkan diri dengan daftar permintaan yang panjang, M. Nur Kholis Setiawan menyarankan agar seorang hamba lebih menyibukkan diri dengan amal sholeh,.
Prioritas Amal Sholeh dan Kesadaran akan Kehadiran Tuhan
Bagi M. Nur Kholis Setiawan, aktivitas profesional seperti menjadi aparatur sipil negara, pengusaha, atau petani harus dijadikan ladang ibadah dan solusi bagi masyarakat, bukan sekadar mencari keuntungan pribadi,. Hal ini dianggap jauh lebih utama daripada terus-menerus meminta hal-hal yang sebenarnya sudah diatur oleh Allah, seperti urusan rezeki.
Selain itu, M. Nur Kholis Setiawan menyoroti kekeliruan logika saat seseorang memohon agar “didekatkan” kepada Allah. Meminta untuk dekat secara tidak langsung mengasumsikan bahwa Allah itu jauh, padahal Allah senantiasa hadir dan dekat dengan hamba-Nya.
“Permintaanmu untuk mendekat itu artinya kita itu jauh dari Allah, padahal Allah itu dekat dengan kita. Kalau sesuatu sudah hadir, tidak perlu dicari-cari.”
Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan mengajak setiap individu untuk memperhalus budi pekerti dan tetap proporsional dalam memohon. Inti dari ajaran tasawuf ini adalah agar manusia tahu diri dan menyelaraskan permohonannya dengan usaha serta ikhtiar yang nyata. Dengan menerapkan empat prinsip utama tersebut, diharapkan setiap langkah dalam kehidupan dapat menjadi sarana untuk meraih ridha Allah SWT secara konsisten.











