Filosofi di Balik Kenyal dan Manisnya Dodol Betawi

Ngaduk Dodol tradisi warga Betawi Depok menyambut Lebaran Idulfitri. (Foto: JD 01/Diskominfo Depok/ Ilustrasi).

KabarSunda.com- Dodol buat warga Betawi merupakan makanan yang wajib ada setiap momen Lebaran Idulfitri.

Dibalik teksturnya yang kenyal dan rasanya manis, tahapan pembuatan dodol cukup memakan waktu lama.

Sekretaris Umum Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD), Nina Suzana mengatakan, proses pembuatan dodol yang enak memerlukan waktu 8-9 jam tanpa henti.

Orang Betawi zaman dulu rela ‘ngaduk’ dodol sejak subuh hingga maghrib.

Bahannya yang digunakan juga cukup sederhana, yaitu tepung, gula merah, santan, dan garam serta tanpa bahan pengawet.

“Ngaduk dodol itu susah mulai dari marut kelapa, peras santannya, lalu ketannya diadonin sampe nggak ada brinjilannya baru deh dimasak harus 8-9 jam, kalau nggak begitu nggak mateng,” jelasnya kepada berita.depok.go.id, saat acara Ngaduk Dodol di acara Lebaran Depok wilayah Kecamatan Sawangan, Selasa (05/05/26).

Menurutnya, dahulu hanya orang kaya yang memiliki uang lebih di rumahnya ada dodol saat Lebaran.

Karena proses pembuatan yang memakan waktu lama, Ngaduk Dodol kini mulai hilang di Kota Depok.

“Sekarang si masih ada, cuman sudah jarang banget,” tegasnya.

Supaya tradisi Budaya Betawi ini tetap terjaga kelestariannya, Nina menyebut, Pemerintah Kota Depok bersama KOOD memasukkan kegiatan Ngaduk Dodol ke dalam rangkaian Lebaran Depok setiap tahunnya.

“Generasi muda kudu tahu susahnya ngaduk dodol makanya itu kenapa harganya mahal. Semoga lewat acara Lebaran Depok masyarakat semakin mengenal tradisi budaya daerahnya,” pungkas Nina.