Budaya  

Mahkota Binokasih Pulang ke Sumedang Larang Setelah Kirab, Berlangsung Khidmat

Penyerahan mahkota pusaka dipapag menuju Keraton Sumedang Larang oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, didampingi Bupati Sumedang  Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aladila, unsur Forkopimda, tokoh adat, serta jajaran pemerintah daerah.

Penyerahan mahkota pusaka dipapag menuju Keraton Sumedang Larang oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, didampingi Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aladila, unsur Forkopimda, tokoh adat, serta jajaran pemerintah daerah.Dok-Diskominfosanditik Sumedang

KabarSunda.com- Prosesi penyerahan kembali Mahkota Binokasih Sanghyang Pake ke Keraton Sumedang Larang berlangsung khidmat, Senin (18/5/2026).

Prosesi tersebut menjadi puncak perjalanan Kirab Mahkota Binokasih Tatar Sunda yang sebelumnya mengelilingi berbagai wilayah di Jawa Barat sebagai simbol penguatan jati diri, persatuan, serta kebangkitan budaya Sunda.

Prosesi penyerahan mahkota pusaka dipapag menuju Keraton Sumedang Larang oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Sumedang  Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aladila, unsur Forkopimda, tokoh adat, serta jajaran pemerintah daerah.

Bupati Dony menyampaikan rasa syukur atas kembalinya Mahkota Binokasih ke tanah Sumedang sebagai penutup rangkaian perjalanan budaya yang sarat nilai sejarah.

“Alhamdulillah, sebuah perjalanan besar Tatar Sunda dimulai dari Sumedang dan kini kembali lagi ke Sumedang. Terima kasih kepada semua pihak yang telah menjaga agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, damai, dan lancar,” ujar Dony.

Menurutnya, kirab Mahkota Binokasih tidak hanya menjadi pengingat sejarah kejayaan Kerajaan Sunda, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami akar budaya dan peradaban Sunda.

“Masyarakat, anak-anak sekolah, para pemuda hingga orang tua kini semakin memahami sejarah kerajaan Sunda. Lebih dari itu, nilai-nilai luhur yang diwariskan harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Bupati Dony menekankan pentingnya menghidupkan nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh sebagaimana ajaran leluhur Sunda sebagai fondasi membangun kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap kembalinya Mahkota Binokasih ini menjadi berkah bagi masyarakat Jawa Barat, meningkatkan etos kerja urang Sunda dalam menjaga kehidupan dan membangun daerahnya, sehingga terwujud Sumedang dan Jawa Barat yang gemah ripah repeh rapih loh jinawi seperti masa kejayaannya dahulu,” katanya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, perjalanan kirab Mahkota Binokasih telah menghadirkan banyak pelajaran berharga sekaligus membuka potensi besar bagi pembangunan daerah, baik dari sisi budaya, tata kota, hingga dampak ekonomi.

“Dari kirab Tatar Sunda ini banyak hal yang ditemukan dan banyak hal yang harus dikerjakan. Dari sisi ekonomi, kegiatan ini memberikan implikasi yang cukup kuat. Kita lihat hotel-hotel penuh, kunjungan masyarakat ke berbagai daerah meningkat, dan beberapa wilayah mulai tampak lebih bersih. Ini spirit yang harus terus dibangun,” ujar Dedi.

Menurutnya, antusiasme masyarakat di sepanjang perjalanan kirab menjadi bukti kuatnya semangat masyarakat Jawa Barat dalam menjaga nilai-nilai budaya leluhur.

“Kalau dihitung, masyarakat yang hadir menyambut kirab ini jumlahnya sudah jutaan orang. Ini peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jawa Barat. Spirit ini harus dijaga dan dijadikan energi untuk membangun daerah,” katanya.

Dedi menegaskan, momentum budaya tersebut harus diikuti dengan pembenahan tata ruang, kebersihan lingkungan, arsitektur, serta estetika kawasan, khususnya di sekitar situs-situs budaya dan keraton.

“Seluruh daerah ke depan harus jauh lebih baik. Kebersihan lingkungannya harus ditingkatkan, penataan kotanya diperkuat, branding daerah dikembangkan, dan estetika kawasan harus dijaga. Jangan dulu berpikir wisata, jangan dulu berpikir hasil. Tata dulu lembur kita, tata kota kita. Setelah itu, hikmah dan manfaatnya akan datang,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya keselarasan pembangunan di kawasan sekitar keraton agar tetap mempertahankan identitas historis dan budaya.