KabarSunda.com- Provinsi Jawa Barat (Jabar) sukses meraih penghargaan internasional ”Most Promising Muslim-Friendly Region of The Year” pada ajang Halal In Travel Global Summit 2026 di Singapura. Ini bukan sekadar prestasi simbolik di sektor pariwisata.
Direktur Eksekutif Halal Center SI, Eko Saputra mengatakan, penghargaan tersebut merupakan sinyal kuat bahwa Jabar telah memasuki peta strategis industri halal global dan memiliki peluang besar menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia.
Penghargaan yang diberikan oleh Mastercard-CrescentRating didasarkan pada penilaian komprehensif melalui Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, sebuah indeks yang selama lebih dari satu dekade menjadi rujukan internasional dalam mengukur kesiapan destinasi wisata ramah Muslim.
Penilaian mencakup aspek aksesibilitas, komunikasi, lingkungan yang mendukung, kualitas layanan, kesiapan digital, inovasi, hingga keberlanjutan ekosistem wisata halal. indeks ini juga yang saya gunakan ketika melakukan riset terkait pariwisata halal di kabupaten Raja Ampat, Papua Barat di tahun 2022 silam.
“Keberhasilan Jabar menjadi semakin bermakna karena terjadi di tengah meningkatnya potensi pasar wisata Muslim dunia. Laporan GMTI 2026 mencatat bahwa jumlah perjalanan wisatawan muslim internasional diperkirakan mencapai 186 juta perjalanan pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 245 juta perjalanan pada 2030, menjadikan segmen ini sebagai salah satu pasar pariwisata dengan pertumbuhan tercepat di dunia ,” ujar Eko dikutip dari Republika.co.id.
Dalam perspektif ekonomi syariah, wisata halal tidak boleh dipahami secara sempit sebagai wisata religi.
Wisata halal merupakan ekosistem ekonomi yang mengintegrasikan layanan transportasi, akomodasi, kuliner halal, industri kreatif, fesyen muslim, produk UMKM, keuangan syariah, hingga ekonomi digital.
Setiap kunjungan wisatawan Muslim sesungguhnya menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menggerakkan berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.
Karena itu, penghargaan ini semestinya dibaca sebagai peluang investasi, bukan sekadar pengakuan internasional. Jawa Barat memiliki modal yang sangat kuat berupa populasi terbesar di Indonesia, kekayaan budaya Sunda, destinasi alam yang beragam, jaringan pesantren yang luas, serta ribuan pelaku UMKM halal yang siap menjadi bagian dari rantai nilai industri pariwisata syariah.
Data GMTI 2026 juga menunjukkan perubahan perilaku wisatawan Muslim global. Sebanyak 80 persen wisatawan kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam mencari informasi, membandingkan destinasi, hingga menyusun rencana perjalanan.
Artinya, daya saing destinasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga oleh kemampuan menyediakan informasi halal yang mudah ditemukan secara digital, akurat, dan terpercaya.
Inilah tantangan berikutnya bagi Jabar. Penguatan infrastruktur digital wisata halal menjadi sama pentingnya dengan pembangunan fisik.
Informasi mengenai restoran bersertifikat halal, masjid, mushala, hotel ramah Muslim, jadwal shalat, hingga destinasi wisata harus terintegrasi dalam platform digital yang mudah diakses wisatawan internasional.
Momentum ini juga hadir ketika posisi Indonesia semakin menguat di tingkat global.
Dalam GMTI 2026, Indonesia berhasil naik ke peringkat kedua dunia bersama Turki dan Arab Saudi sebagai destinasi ramah Muslim terbaik di antara negara-negara anggota OKI, sementara Malaysia masih mempertahankan posisi pertama selama sebelas tahun berturut-turut.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia semakin diakui sebagai pemain utama dalam industri halal dunia.
Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jabar memiliki peluang untuk menjadi lokomotif pencapaian nasional tersebut.
Potensi wisata di kawasan Puncak, Geopark Ciletuh, Pangandaran, Ciwidey, Garut, Tasikmalaya, Cirebon hingga kawasan budaya Priangan dapat dikembangkan dalam satu narasi besar sebagai destinasi Muslim-friendly yang mengedepankan kenyamanan, kebersihan, keamanan, serta nilai-nilai universal yang inklusif.
Namun demikian, penghargaan internasional harus menjadi titik awal, bukan garis akhir.
Pemerintah daerah bersama pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat, pesantren, dan komunitas ekonomi syariah perlu menjadikan penghargaan ini sebagai momentum mempercepat sertifikasi halal, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, digitalisasi layanan, promosi internasional, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
“Saya memandang bahwa wisata halal bukan sekadar instrumen peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Wisata halal merupakan strategi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada keberkahan, keberlanjutan, dan pemerataan kesejahteraan. Ketika wisatawan datang, bukan hanya hotel yang memperoleh manfaat, melainkan juga pedagang kecil, petani, nelayan, pengrajin, pelaku UMKM, hingga generasi muda yang memperoleh lapangan kerja baru,” kata Eko
Penghargaan yang diraih Jabar membuktikan bahwa standar global dapat dicapai melalui sinergi kebijakan, inovasi, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan.
Kini tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi, meningkatkan kualitas layanan, dan mengonversi pengakuan internasional tersebut menjadi pertumbuhan investasi, peningkatan devisa, serta penguatan posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.
Jabar telah membuka jalan. Kini saatnya menjadikan wisata halal sebagai lokomotif baru pertumbuhan ekonomi syariah nasional yang mampu menghadirkan kemajuan ekonomi sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai rumah bagi industri halal dunia.













