Prihatin Kondisi Bangsa, Puluhan Tokoh di Bandung Suarakan Mosi Kebangsaan Indonesia 

KabarSunda.com- Puluhan tokoh dari berbagai latar belakang berkumpul di Kota Bandung. Mereka menyampaikan Mosi Kebangsaan Indonesia sebagai bentuk keprihatinan, sekaligus seruan moral untuk mengingatkan kembali arah penyelenggaraan Negara Republik Indonesia.

Mosi tersebut dimotori Pimpinan Mosi Kebangsaan Indonesia Abdy Yuhana, bersama Paskah Irianto dan Tavip Ginting.

Penyampaian mosi berlangsung di kawasan Monumen Penjara Banceuy, Kota Bandung, bertepatan dengan momentum 81 tahun perjalanan Indonesia setelah para pendiri bangsa menetapkan fondasi konstitusional negara pada 18 Agustus 1945.

Abdy mengatakan, Mosi Kebangsaan Indonesia lahir dari kegelisahan sejumlah tokoh terhadap berbagai persoalan yang dinilai berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, perjalanan Indonesia dalam satu dekade terakhir menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari ketimpangan ekonomi, persoalan sosial-politik, lingkungan hingga melemahnya kohesi sosial.

“Kami ingin mengingatkan kembali jalannya Negara Republik Indonesia. Proses bernegara ini harus tetap sesuai dengan visi Negara Pancasila,” kata Abdy seusai penyampaian Mosi Kebangsaan Indonesia, Selasa, 18 Agustus 2026.

Dia menegaskan Pancasila tidak boleh sekadar menjadi simbol, tetapi harus ditempatkan sebagai pijakan dalam setiap proses penyelenggaraan negara.

Termasuk dalam menentukan kebijakan yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Abdy menilai kebijakan negara harus benar-benar diarahkan untuk memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Bagaimana kebijakan-kebijakan negara bisa memprioritaskan kebijakan yang langsung memberikan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi rakyat,” ujarnya.

Dalam Mosi Kebangsaan Indonesia itu, para tokoh menyampaikan lima pokok pikiran.

Pertama, mereka mendorong seluruh penyelenggara negara menjalankan janji kemerdekaan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

Kedua, konstitusi dan prinsip negara hukum demokratis harus menjadi instrumen untuk mengawal kehendak rakyat serta dijalankan dengan komitmen moral dan etika bernegara.

Ketiga, diperlukan evaluasi terhadap praktik penyelenggaraan negara yang dinilai menyimpang dari visi Pancasila. Para tokoh juga mendorong penerapan sistem merit dalam proses kepemimpinan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Kelima, seluruh kekuatan nasional diajak bergotong royong menjaga Negara Republik Indonesia serta mempertahankan tatanan negara hukum demokratis berdasarkan Pancasila.

Abdy menegaskan Mosi Kebangsaan Indonesia tidak dimaksudkan sebagai gerakan yang berhenti di Kota Bandung.

Sebaliknya, mosi tersebut akan terus disuarakan ke berbagai daerah sebagai upaya membangun kesadaran bersama mengenai arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dari Bandung ini kami menyampaikan Mosi Kebangsaan dan ini akan terus bergulir ke seluruh wilayah Indonesia. Kami ingin terus mengingatkan jalannya Negara Republik Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Paskah Irianto menyoroti pentingnya menjadikan konstitusi sebagai pijakan utama dalam kehidupan bernegara.

Dia mengingatkan agar kepentingan politik, tekanan kekuasaan maupun kepentingan ekonomi tidak menggeser hak-hak masyarakat.

“Yang paling penting itu bicara tentang konstitusi. Tidak boleh karena kepentingan politik atau tekanan politik kekuasaan, perkembangan ekonomi, kemudian mengabaikan semua hak-hak rakyat,” kata Paskah.

Menurut dia, rakyat harus tetap menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi.

Karena itu, pembenahan kehidupan bernegara tidak cukup hanya melalui perubahan kebijakan. Budaya politik dan praktik kekuasaan juga perlu diperbaiki agar demokrasi tidak berhenti pada proses prosedural.

Paskah menilai dialog antara masyarakat, penyelenggara negara dan berbagai kekuatan politik menjadi bagian penting untuk memastikan demokrasi mampu menghadirkan keadilan sosial.

Mosi Kebangsaan Indonesia juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

Selain itu, negara didorong memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, lapangan pekerjaan serta kesempatan ekonomi yang lebih adil.

Penyampaian Mosi Kebangsaan Indonesia dari Bandung tersebut sekaligus menjadi refleksi atas 81 tahun perjalanan Republik Indonesia.

Puluhan tokoh yang hadir berharap semangat para pendiri bangsa dalam membangun Indonesia tetap menjadi rujukan dalam menghadapi berbagai persoalan kebangsaan.

Sejumlah tokoh yang turut hadir di antaranya I Gusti Ngurah Adhitya, Priston Sagala, Syarif Bastaman, Jeremy Huang, Bob Randilawe, Budi Hermansyah, Komarudin Taher, Enjang Tedi, Dwi Subawanto dan Firman Tendry.

Mereka datang dari berbagai latar belakang dan menyatukan pandangan dalam Mosi Kebangsaan Indonesia yang disampaikan dari Bandung.