Rektor Unpad: Penelitian Bukan Sekadar untuk Lulus, tetapi Memberi Solusi

KabarSunda.com- Penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Padjadjaran harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjunjung tinggi etika akademik.

Dua prinsip tersebut, yakni berdampak dan etis, menjadi fokus pengembangan ekosistem riset di Unpad guna mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan tantangan nyata di masyarakat.

Demikian disampaikan Rektor Unpad, Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, saat memberi sapaan pembuka dalam acara “Rektor Menyapa: Dari Tugas Akhir ke Dampak”, Selasa, 11 Agustus 2026.

Acara yang berlangsung di Aula Graha Sanusi Hardjadinata, Jl. Dipati Ukur no. 35 Bandung ini merupakan bagian dari Penerimaan Mahasiswa Baru Pascasarjana Unpad Gelombang 1 Tahun Akademik 2026/2027.

“Penelitian tidak boleh hanya untuk lulus saja, tapi bagaimana penelitian itu bisa memberikan solusi bagi permasalahan di masyarakat. Ini terlihat mudah, namun bukan sesuatu yang sederhana untuk dilakukan,” ujar Prof Arief dikutip dari dari laman unpad.

Menurut Rektor, tuntutan untuk menghasilkan penelitian yang berdampak dalam waktu relatif singkat kerap memunculkan godaan untuk mengabaikan etika penelitian, terlebih dengan mudahnya akses terhadap informasi, data, dan teknologi kecerdasan artifisial (AI).

Karena itu, Unpad mengembangkan ekosistem riset yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan masyarakat agar penelitian yang dihasilkan tetap berdampak dan beretika.

“Ekosistem ini didukung oleh kebijakan regulasi, sistem pendanaan, sistem pembimbingan dan mentoring, serta sistem publikasi bertanggung jawab yang mengedepankan etik,” papar Rektor Unpad.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Unpad, Prof. Rizky Abdulah, mengatakan bahwa mahasiswa berperan penting dalam pengembangan riset di Unpad.

Setiap tahun Unpad menghasilkan sekitar 2.500 publikasi terindeks Scopus, dengan sekitar setengahnya terbit pada jurnal kuartil pertama (Q1).

Pada tahun lalu, sebanyak 936 publikasi di antaranya menempatkan mahasiswa sebagai penulis pertama.

“Unpad ingin menciptakan ekosistem di mana mahasiswa hanya berfokus pada risetnya. Untuk itu kami menyiapkan fasilitas sebagai privilege yang dapat dimanfaatkan, namun privilege ini datang dengan kewajiban untuk bertanggung jawab,” kata Prof. Rizky.

Prof. Rizky menjelaskan bahwa Unpad menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan riset mahasiswa, mulai dari akses jurnal dan basis data penelitian berbayar, layanan pengurusan ethical clearance, pelatihan dan lokakarya nasional maupun internasional, hibah riset, beasiswa, hingga kerja sama penelitian.

Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan akses ke platform pemeriksa plagiarisme, bantuan article processing charge (APC), layanan proofreading dan penerjemahan, serta pendampingan pengurusan hak kekayaan intelektual (HKI) dan paten.