KabarSunda.com- Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi yang tengah menjadi sorotan kini diterpa isu Raja Sunda.
Gaya kepemimpinan sosok yang karib dengan tradisi dan kebudayaan Sunda itu dikritik keras.
Dedi kerap enggan berkompromi dalam mengeksekusi kebijakannya. Hal itu membuatnya dinilai seperti seorang raja.
Di sisi lain, Dedi Mulyadi pernah mencocokkan kakinya dengan prasasti bersejarah telapak kaki Raja Sunda di Kota Bogor, dan ukurannya disebut pas.
Dedi Mulyadi pernah juga dikaitkan dengan Raja Sunda saat mengunjungi prasasti bersejarah Batu Tulis di Kota Bogor, akhir APril 2025 lalu.
Dalam kunjungannya, Kang Dedi Mulyadi alias KDM dianggap lulus dalam ujian dua batu prasasti Kerajaan Sunda Pajajaran.
Anggapan lulus ujian prasasti bukanlah anggapan resmi, melainkan hanya ungkapan semata yang berasal dari ucapan Wali Kota Bogor Dedie Rachim.
Pada kunjungannya, KDM menjajal jejak prasasti raja pada sebuah batu.
Hal itu kemudian menjadi candaan bahwa KDM sedang menjalani ujian prasasti raja.
Pertama adalah menapaki jejak kaki Raja Sunda di area prasasti Batutulis.
Ternyata kurang lebih jejak kaki Raja Sunda itu pas dengan kaki Dedi Mulyadi.
Kemudian yang kedua adalah ujian batu lingga yang mana KDM harus memunggungi batu itu dan kedua tangannya harus bersentuhan.
“Satu lagi ujiannya Pak Gubernur,” ucap Dedie Rachim ketika KDM hendak mencoba batu lingga tersebut dikutip dari tayangan KDM Channel, Minggu, 20 April 2025.
Kedua tangan KDM rupanya bersentuhan sampai orang-orang di sekitarnya berucap Alhamdulillah.
Dalam kesempatan ini, Dedi juga mencoba menggali ke informasi ke tokoh setempat terkait prasasti Batutulis ini.
Kerena di prasasti tersebut berisi tulisan Sunda kuno dan juga ada jejak telapak kaki manusia di atas batu.
Kemudian diceritakan cerita rakyat soal kesaktian yang dikaitkan baru prasasti tersebut yang mana KDM memiliki pandangan berbeda.
“Menurut saya begini, yang disebut kesaktian adalah ilmu pengetahuan. Bahwa pada zaman itu teknologi sudah berkembang sehingga mampu membuat pahatan yang abadi seperti ini,” ucap KDM.
“Biar apa ?, biar anak cucu Prabu Siliwangi pada pinter. Nanti kalau kita mengatakan ini leluhur kita menulis dengan kesaktiannya, nanti gak mau belajar,” sambung KDM.
Dedi pun meluruskan sangkaan orang bahwa dirinya yang merupakan orang yang mistik.
“Saya ini orang yang disangka mistik, padahal mah akademik,” kata KDM.
“Jadi mari kita belajar, kalau leluhur kita sudah menulis seperti ini, maka hari ini kita harus lebih pinter dari leluhur kita,” ungkap KDM.
KDM juga mendapat cerita bahwa tempat prasasti tersebut merupakan lokasi penobatan Raja Pajajaran tepatnya yang diberi nama Pakuan Pajajaran.
“Makanya kantor gubernur wilayah namanya kantor gubernur wilayah Pakuan Pajajaran. Nanti semangatnya harus semangat Pakuan Pajajaran, banyak pohonnya, rumah-rumah tertata dengan baik, masyarakatnya egaliter, ramah, silih asah, silih asih, silih asuh, itulah semangat kita, pemimpin yang adil,” ucap Dedi Mulyadi.











