Tangkuban Parahu Masih Berpotensi Erupsi Meski Gempa Turun Jadi 134 Kejadian

KabarSunda.com- Meskipun aktivitas gempa di Gunung Tangkuban Parahu mengalami penurunan, Badan Geologi tetap mengingatkan bahwa potensi erupsi freatik dapat terjadi tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Geologi, M Wafid, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 5 Juni 2025.

Sebelumnya, Gunung Tangkuban Parahu mencatatkan peningkatan gempa hingga 270 kejadian. Namun mulai Rabu, jumlah gempa vulkanik mengalami penurunan.

“Meski gempa mengalami penurunan, hasil pengamatan deformasi permukaan menggunakan alat EDM dan GNSS tetap menunjukkan adanya pola inflasi, yang mengindikasikan akumulasi tekanan pada kedalaman dangkal di bawah tubuh gunungapi. Hal ini masih menjadi perhatian karena potensi erupsi freatik tetap dapat terjadi secara tiba-tiba, tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas,” ujar Wafid.

Berdasarkan pengukuran gas, Wafid menambahkan, konsentrasi gas masih dalam batas normal dan bersifat fluktuatif.

Meski demikian, ia mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar gunung dan para pengunjung untuk tidak mendekati area dasar kawah, serta tidak berlama-lama di kawasan aktif.

Wafid juga meminta masyarakat segera menjauhi area tersebut jika teramati peningkatan intensitas hembusan atau tercium bau gas menyengat.

“Meski aktivitas menurun, kewaspadaan harus tetap dijaga,” tegasnya.

Mengenal Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif yang terletak di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.

Gunung ini memiliki sembilan kawah, dengan dua kawah utama di area puncak, yaitu Kawah Ratu dan Kawah Upas.

Erupsi Gunung Tangkuban Parahu umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu, yang juga dikenal dengan keindahan pemandangan sekitar kawah. Tak heran jika gunung ini sering dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Data pemantauan hingga pukul 18.00 WIB pada Rabu menunjukkan bahwa jumlah gempa Low-Frequency (LF) tercatat sebanyak 134 kejadian, menurun dari 270 kejadian sehari sebelumnya.

Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan dalam dinamika aktivitas vulkanik, meskipun tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih berada pada Level I (Normal).

Kondisi ini berbeda dengan tren yang teramati pada beberapa hari sebelumnya.

Sejak 1 Juni, terjadi peningkatan bertahap jumlah gempa LF yang berkaitan erat dengan pergerakan fluida di kedalaman dangkal tubuh gunung.

Pada 1 Juni tercatat 100 kejadian, meningkat menjadi 134 kejadian pada 2 Juni, dan melonjak menjadi 270 kejadian pada 3 Juni 2025.

Peningkatan aktivitas kegempaan ini juga disertai dengan pengamatan visual berupa hembusan asap putih dari Kawah Ratu yang semakin intensif, mencapai ketinggian antara 5 hingga 150 meter dari dasar kawah.

Aktivitas fumarola di Kawah Ratu juga lebih dominan dibandingkan dengan Kawah Ecoma, dengan tekanan hembusan lemah hingga sedang.