KabarSunda.com- Organisasi yang terhimpun dalam Cipayung Plus Bogor membuat pernyataan sikap terkait dinamika yang sedang terjadi di masyarakat.
Ketua PMII Kota Bogor, Abdullah Nuruz Zaini mengatakan Cipayung Plus Bogor berdiri di tengah sejarah yang berulang.
Sejarah tentang rakyat yang berteriak, sementara kekuasaan sibuk menata jamuan di atas meja.
Sejarah tentang mahasiswa yang turun ke jalan, karena suara kebenaran tak lagi mendapat tempat di ruang-ruang sidang parlemen dan gedung-gedung kekuasaan.
“Saudara-saudara, bangsa ini tengah diguncang oleh ironi yang begitu menyakitkan,” ungkapnya, Senin, 1 September 2025.
Ketika rakyat meringkuk dalam kesulitan ekonomi, harga kebutuhan pokok melambung, lapangan kerja semakin sempit, dan daya beli masyarakat kian melemah, warga justru disuguhi kabar yang mencengangkan gaji wakil rakyat DPR yang fantastis.
“Gaji yang tak sebanding dengan keringat rakyat, gaji yang seolah menertawakan penderitaan mereka yang saban hari berjuang sekadar untuk bertahan hidup,” tuturnya.
“Apakah menjadi wakil rakyat berarti menghisap keringat rakyat dengan dalih legitimasi politik?,” sambungnya.
Baginya, luka itu semakin dalam ketika dari kursi-kursi kekuasaan keluar pernyataan-pernyataan arogan, kasar, dan jauh dari empati. Kata-kata itu bukan hanya tidak bijak, tetapi juga menghina akal sehat.
Kata-kata yang mestinya menenangkan, justru membakar amarah rakyat. Di sinilah jarak antara rakyat dan wakilnya semakin menganga. Demokrasi yang mestinya jembatan, kini menjelma menjadi jurang.
Kawan-kawan, seakan belum cukup, wajah demokrasi semakin buram dengan hadirnya tindakan represif aparat kepolisian.
Ketika rakyat menggunakan hak konstitusionalnya untuk menyampaikan pendapat, negara justru hadir dengan gas air mata, dengan tameng, dengan pentungan.
Ironisnya, dalam sebuah insiden tragis, seorang pengemudi ojek online meregang nyawa karena tertabrak kendaraan taktis kepolisian.
Sungguh, betapa murahnya nyawa rakyat di mata negara. Betapa rapuhnya penghormatan terhadap kemanusiaan di negeri yang katanya menjunjung tinggi demokrasi.
“Maka dari itu, hari ini kami, Organisasi yang terhimpun dalam Cipayung Plus Bogor, turun ke jalan dengan membawa nurani rakyat. Kami datang bukan untuk mencari panggung, bukan untuk mencari sensasi, melainkan untuk mengingatkan bahwa bangsa ini sedang sakit, dan luka itu tidak boleh dibiarkan semakin membusuk,” bebernya.
Bangsa ini lahir dari penderitaan, berdiri di atas darah dan air mata perjuangan.
Maka jangan biarkan cita-cita kemerdekaan itu digadaikan oleh politik elitis dan keserakahan ekonomi.
Jangan biarkan demokrasi yang diperjuangkan dengan nyawa mahasiswa di masa lalu, berubah menjadi demokrasi prosedural yang miskin makna.
Dengan demikian, pihaknya menegaskan beberapa sikap dan tuntutan yang lahir dari keprihatinan mendalam.
“Pertama, menuntut Transparansi pembatalan tunjangan DPR serta menuntut untuk memangkas anggaran DPR yang tidak penting bagi kesejahteraan rakyat,” ucapnya.
Kemudian, menuntut Majelis Kehormatan Dewan (MKD) untuk segera melakukan sidang etik dan memberhentikan anggota DPR yang menghina rakyat serta membuat kegaduhan.
Mendesak dilakukannya evaluasi dan reformasi, terhadap institusi Polri secara struktural maupun kultural serta berhentikan segala bentuk tindakan represif kepolisan dengan mengedepankan pendekatan humanis.
Usut tuntas pelaku brutalitas aparat yang sampai menghilangkan nyawa sesuai hukum tanpa impunitas, serta bebaskan seluruh demonstran yang ditahan secara sewenang-wenang.
Reformasi segala kebijakan yang menciptakan kesenjangan dengan rakyat, dengan langkah-langkah seperti, melakukan evaluasi dan reformasi kebijakan pajak agar lebih adil serta tidak memberatkan masyarakat.
Menetapkan standar gaji yang layak bagi para pahlawan bangsa, khususnya guru di Indonesia.
Melaksanakan reformasi agraria sejati demi pemerataan kesejahteraan, dan melakukan reformasi total terhadap sistem kaderisasi partai politik agar lebih demokratis dan akuntabel.
Melakukan evaluasi progam MBG. Segera disahkannya RUU Perampasan Aset untuk memberantas korupsi.
“Saudara-saudara, kami mahasiswa tidak akan diam. Kami tidak akan tunduk pada tekanan. Kami tidak akan berhenti bersuara sampai keadilan benar-benar berdiri tegak di negeri ini,” ungkapnya.
“Karena Suara mahasiswa adalah suara perlawanan terhadap tirani. Suara mahasiswa adalah suara masa depan yang tak ingin dikhianati. Ini adalah seruan agar negara kembali kepada akal sehat,” jelasnya.
Karena tanpa keadilan, demokrasi hanya nama. Tanpa keberpihakan pada rakyat, kekuasaan hanyalah topeng.
Demikian pernyataan sikap dan tuntutan yang kami sampaikan.
Apabila segala hal yang telah disampaikan tidak segera ditindaklanjuti, Cipayung Plus Bogor akan siap untuk terus mengawal dan akan siap untuk turun Kembali dengan massa aksi yang lebih banyak lagi.













