KabarSunda.com- Ledakan timbunan sampah di Kabupaten Bandung mencapai titik kritis. Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat volume sampah harian berkisar 1.200 hingga 1.500 kilogram.
Kondisi ini tak hanya membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mengancam kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Namun, di tengah krisis ini, Desa Mekarrahayu Kecamatan Margaasih muncul sebagai pionir dengan menghadirkan Duta Pilah Sampah, sebuah gerakan kolaboratif yang digadang-gadang mampu mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Program Peningkatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM) – ISWMP memfasilitasi sinergi antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan masyarakat. DLH, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pendidikan terlibat aktif:
DLH fokus pada edukasi dan manajemen sampah di masyarakat.
Dinas Kesehatan mendorong pilar ke-4 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM): pengelolaan sampah rumah tangga.
Dinas Pendidikan mengintegrasikan isu lingkungan lewat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Duta Pilah Sampah Desa Mekarrahayu lahir dari kesamaan visi berbagai pihak: pemerintah desa, akademisi, sanitarian, kader kesehatan, PKK, pengelola TPST, hingga tokoh masyarakat. Mereka kini menjadi ujung tombak revolusi pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung.
Duta Pilah Sampah tak sekadar jargon. Sejumlah aksi konkret telah dijalankan, di antaranya:
- Edukasi dan pengumpulan sampah anorganik saat kegiatan posyandu.
- Pemicuan dan penimbangan sampah di RW 12 sebagai wilayah replikasi pilot project.
- Pemanfaatan media sosial (WhatsApp, Facebook, Instagram) dan penempelan stiker untuk mendorong rumah tangga melakukan pemilahan.
- Edukasi pembuatan lubang biopori, komposter, dan kerajinan dari sampah anorganik.
- Selain itu, duta pilah juga mendorong lahirnya Peraturan Desa tentang Pengelolaan Sampah dan berkoordinasi dengan TPST Oxbow untuk pengangkutan residu.
RW 12 Desa Mekarrahayu, dengan 10 RT di dalamnya, resmi ditetapkan sebagai wilayah pilot project pilah sampah dari sumber. Sistem yang dikembangkan mencakup:
- Sampah Organik → dikumpulkan, diangkut TPST Oxbow, dan diolah jadi pakan maggot.
- Sampah Anorganik → dikumpulkan dalam karung, disedekahkan, atau masuk bank sampah unit.
- Sampah Residu/B3 → diangkut armada DLH ke UPT Baleendah.
Tak hanya itu, fasilitas biopori dan bata terawang juga akan dimaksimalkan di area publik RW 12.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Bandung, H. Abdul Wahid Fauzy, S.Ag., MM, menyebut Duta Pilah Sampah sebagai aset berharga.
“Mereka adalah motor perubahan perilaku di masyarakat. DLH akan memberikan surat penugasan sebagai bentuk apresiasi resmi,” tegasnya.
Hal ini dianggap penting karena kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih tergolong langka.
Anwar dari Tim PPAM Kabupaten Bandung menegaskan, keberhasilan program ini hanya bisa dicapai bila seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, OPD, kader PKK, hingga tokoh masyarakat, bersatu padu dengan visi yang sama.
Dengan optimalisasi TPST Oxbow Mekarrahayu, Desa Mekarrahayu diharapkan menjadi role model pengelolaan sampah mandiri bagi desa-desa lain di Kabupaten Bandung.













