KabarSunda.com- Wakil Wali Kota Bandung, Erwin menegaskan, koperasi bukan sekadar wadah ekonomi kecil di kelurahan, melainkan motor penggerak kemandirian warga.
Dengan manajemen yang profesional, koperasi bisa menjadi solusi bagi banyak persoalan sosial dan ekonomi di masyarakat. Ia bahkan membuka peluang yang jarang disampaikan pejabat publik: pemanfaatan aset milik pemerintah untuk kegiatan koperasi.
“Selama aset pemerintah belum digunakan, koperasi boleh memanfaatkannya. Tapi kalau nanti dibutuhkan untuk kepentingan publik, tentu akan dikembalikan,” kata Erwin di depan 151 pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Hotel Savoy Homann.
Gagasan itu menjadi angin segar. Selama ini, keterbatasan lahan dan tempat usaha sering menjadi kendala utama bagi koperasi kelurahan.
Dengan kebijakan yang lebih terbuka, koperasi dapat mengelola aset produktif seperti lahan kosong atau kolam retensi untuk kegiatan ekonomi yang bermanfaat.
Namun Erwin juga tidak menutup mata terhadap tantangan di lapangan. Banyak koperasi masih lemah dalam literasi manajerial, kepatuhan regulasi, hingga pelibatan anggota.
Karena itu, Bimbingan Teknis (Bimtek) ini digelar agar pengurus KKMP mampu memperkuat tata kelola, memahami pelaporan digital, dan menumbuhkan semangat gotong royong yang menjadi jantung gerakan koperasi.
Sementara itu, Kepala Dinas KUKM Kota Bandung, Budhi Rukmana, menyampaikan bahwa dari 33 KKMP aktif di Kota Bandung, beberapa sudah menunjukkan perkembangan pesat.
Koperasi di Cibaduyut Kidul dan Kopo, misalnya, telah bekerja sama dengan Bulog, ID Food, dan Pertamina untuk menyediakan sembako murah bagi warga.
Langkah-langkah kecil seperti inilah yang diharapkan menjadi pondasi besar bagi kemandirian ekonomi di tingkat kelurahan.
Erwin menyebutnya sebagai bagian dari visi Bandung Utama—kota yang unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis.











