Budaya  

Pesuguhan 2025 di Bandung Ketika Makanan, Seni, dan Diplomasi Bertemu dalam Satu Meja

KabarSunda.com– Kota Bandung kembali mengukuhkan diri sebagai pusat diplomasi budaya dan kreativitas Asia-Afrika melalui penyelenggaraan “Pesuguhan 2025: A Sensoritual Gastrodiplomacy of Paceklik Food” yang digelar di Pendopo Kota Bandung, Jumat, 17 Oktober 2025.

Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Bandung melalui Bagian Kerja Sama ini menghadirkan pendekatan baru dalam paradiplomasi lintas benua: menggunakan kekuatan kuliner dan kebudayaan sebagai medium kolaborasi dan ketahanan di tengah dunia yang tengah menghadapi ketidakpastian global.

“Pesuguhan 2025” menjadi simbol kebangkitan Bandung sebagai kota jasa dan pariwisata termaju di Indonesia, sekaligus mempertegas perannya sebagai pusat paradiplomasi Asia-Afrika.

Respon terhadap Era VUCA dan “Paceklik Modern”

Gelaran ini berangkat dari fenomena “paceklik modern”, di mana krisis pangan tak lagi sekadar akibat musim kering, tetapi juga dipicu oleh inflasi, gangguan rantai pasok global, serta konflik ekonomi dan geopolitik.

Di tengah era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang penuh gejolak, Pesuguhan 2025 hadir untuk merumuskan jalan kebudayaan baru melalui metode “Akademistik” — sebuah pendekatan yang memadukan riset, eksplorasi kuliner, dan seni pertunjukan sebagai upaya mencari realitas baru dalam menghadapi tantangan zaman.

Acara dibuka oleh Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, S.E., yang menegaskan bahwa Bandung memiliki potensi luar biasa untuk mendorong pemajuan Asia-Afrika melalui kekuatan gastronomi dan budaya.

Setelah sambutan pembuka, acara dilanjutkan dengan keynote speech dari Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Dra. Dessy Ruhati, M.M.Par.

Dalam pemaparannya, Dessy menyebut bahwa ekonomi kreatif kini menjadi mesin baru pembangunan nasional (new engine of growth) yang diharapkan dapat memperkuat daya saing dan kemandirian bangsa.

“Kegiatan seperti Pesuguhan 2025 menjadi bukti nyata bagaimana kreativitas dan budaya dapat menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi sekaligus diplomasi antarbangsa,” ujarnya.

Eksplorasi Kuliner dari Bandung hingga Ciamis

Bagian inti dari Pesuguhan 2025 dipimpin oleh tiga kurator utama — Riadi Darwis, Hardian Eko Nurseto (Seto Nurseto), dan Arie Syarifuddin (Ghorie) — yang mengorkestrasi eksplorasi sensorik melalui konsep Performative Exploration.

Sebanyak lima tim riset diturunkan ke berbagai distrik di Jawa Barat, dari Depok dan Bekasi di wilayah barat hingga Garut dan Ciamis di wilayah timur, untuk menggali kembali potensi bahan pangan lokal yang dapat digunakan di masa paceklik.

Hasil eksplorasi tersebut kemudian diolah menjadi berbagai menu inovatif dengan bahan sederhana namun bernilai tinggi, seperti pancake kacang hijau, perkedel mokaf, kari kacang hijau, rasi, omelet teri pakcoy, pindang beka, dan mille crepes colenak.

Tak ketinggalan tiga minuman khas — bir mulud, wedang tebu, dan wedang angin — yang menjadi simbol kehangatan dan solidaritas antarbudaya.

Kegiatan ini juga melibatkan berbagai jenama kuliner lokal Bandung, di antaranya The GoodLife Dago, Temu Roti, Delchi Patisserie, dan Rempah Embassy, yang berkolaborasi dalam proses riset, pengolahan, hingga penyajian hidangan.

Suasana Pesuguhan 2025 diperkaya dengan pertunjukan musik eksperimental TinyUh, berkolaborasi dengan mahasiswa Yamaguchi Prefectural University Jepang, yang memainkan instrumen dari peralatan dapur — simbol sinergi budaya Asia-Afrika yang sederhana namun bermakna.

Penampilan seniman pantomim Wanggi Hoed menjadi momen reflektif acara, menggugah kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan global dan solidaritas kemerdekaan Palestina.

Dengan pendekatan multidisipliner, Pesuguhan 2025 berhasil menghadirkan pengalaman yang tidak hanya estetis tetapi juga emosional dan spiritual — sebuah “sensoritual experience” yang menyentuh semua pancaindra sekaligus kesadaran sosial.

Deklarasi Pesuguhan Bandung 2025 dan MoU Internasional

Puncak acara ditandai dengan pembacaan Deklarasi Pesuguhan Bandung 2025, sebuah pernyataan resmi yang mendorong gastronomi sebagai soft power diplomasi budaya.

Deklarasi ini menjadi kelanjutan dari semangat Konferensi Asia-Afrika 1955, Bandung Message 2015, hingga inisiatif Bandung 2025, mempertegas bahwa Bandung terus menjadi pusat inspirasi bagi kolaborasi antarbangsa.

Acara juga diakhiri dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara salah satu kolektif seni terkemuka Jawa Barat dan Yamaguchi Prefectural University Jepang, yang akan bekerja sama dalam riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis proyek di bidang pangan, lingkungan, dan keberlanjutan.

Sebagai luaran tambahan, acara ini juga meluncurkan buku “Pesuguhan 2025: A Sensoritual Gastrodiplomacy of Paceklik Food” yang ditulis oleh para kontributor lintas bidang, termasuk Evi Sri Rezeki, Prasanti Widyasih Sarli (Asih Simanis), Riadi Darwis, dan Erlingga Agustiana.

Buku tersebut merangkum riset lapangan, refleksi budaya, hingga gagasan tentang pangan, kebencanaan, dan kemandirian lokal dalam menghadapi tantangan global.

Pesuguhan 2025 diharapkan menjadi gerakan kreatif lintas sektor yang memperkuat relasi Asia-Afrika melalui diplomasi gastronomi. Bandung sekali lagi menunjukkan bahwa dari meja makan, dunia bisa bersatu untuk berbagi rasa, nilai, dan harapan.