Dedi Mulyadi Ungkap Tiga Nama Baru Kereta di Jabar, Salah Satunya Bisa Angkut Hasil Panen

KabarSunda.com- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memaparkan rencana besar untuk memperluas dan mempercepat jaringan kereta api di provinsi yang dipimpinnya.

Menurut Dedi, upaya itu bukan sekadar soal menambah rel atau jadwal, melainkan mengubah kualitas konektivitas antarkota.

Hal itu termasuk memperpendek durasi perjalanan kereta antaribu kota dan membuka rute-rute baru yang menghubungkan wilayah-wilayah di Priangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedi saat berpidato pada acara bertajuk “Bakti Negeri untuk Pelaku Seni dan Budaya sareung Nganjang ka Warga” di Gedung Sate, Bandung, Jumat, 7 November 2025, setelah dia mengaku melakukan pembicaraan dengan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (PT KAI).

Salah satu fokus utama program ini adalah memangkas waktu tempuh layanan Argo Parahyangan antara Jakarta dan Bandung.

Dedi mengungkapkan ambisi yang cukup ambisius, yaitu menargetkan kepala perjalanan yang jauh lebih singkat daripada sekarang.

“Kami ingin menyambungkan kereta yang agak sedikit lebih kencang. Ya, Argo Parahyangan dari Jakarta ke Bandung pengen waktu tempuhnya 1,5 jam sampai 1 jam,” ujarnya, dikutip dari Pikiran Rakyat.com.

Jika terealisasi, pengurangan waktu ini akan mengubah dinamika perjalanan antarwilayah dan berpotensi memberikan alternatif transportasi yang lebih kompetitif dibanding moda darat lainnya.

Lebih dari sekadar percepatan rute Jakarta–Bandung, rencana tersebut juga mencakup peluasan jaringan ke arah Priangan Timur.

Dedi menegaskan ada niatan untuk menghubungkan lintas-lintas yang selama ini kurang tersentuh oleh layanan rel utama, termasuk rute yang mencapai Banjar dan bahkan menerus sampai Pangandaran.

“Nantinya terkoneksi baik sampai Banjar, sampai Pangandaran,” kata dia.

Tiga Nama Kereta Baru Diumumkan Dedi Mulyadi

Dalam paket inisiatif transportasi ini, Dedi juga memperkenalkan tiga nama layanan kereta baru yang menggunakan kearifan lokal Sunda dan masing-masing dirancang untuk tujuan berbeda.

Pertama, “Tani Mukti”, sebuah layanan logistik yang diproyeksikan mengangkut hasil pertanian dari daerah-daerah seperti Tasikmalaya dan Cirebon menuju Jakarta.

Tidak hanya muatan komoditas, Dedi bahkan membayangkan adanya fasilitas khusus untuk hewan ternak dalam layanan ini.

“Nanti ada gerbong khusus di mana bawa kambing boleh naik kereta dengan gerbong khusus,” ujarnya, menandakan perhatian pada kebutuhan rantai pasokan pertanian dan peternakan.

Kedua, nama “Kilat Pajajaran” disiapkan untuk sebuah layanan cepat, berupa kereta yang didesain untuk mempercepat konektivitas antara Jakarta dan Banjar.

Nama ini mengandung nuansa sejarah dan kecepatan, menggambarkan ambisi menghadirkan layanan yang tidak hanya menghubungkan jarak tetapi juga memotong waktu perjalanan secara signifikan.

Ketiga, Dedi menyebut rencana meluncurkan sebuah kereta wisata bernama “Jaka Lalana” yang dijadwalkan mulai beroperasi pada awal Desember mendatang.

Rute awal Jaka Lalana akan menghubungkan Jakarta dan Cianjur, dengan misi mempromosikan pariwisata dan mobilitas yang lebih santai namun terintegrasi.

Mengenai filosofi penamaan, Dedi menjelaskan, “Namanya Jaka Lalana. Karena Jaka itu laki-laki, kerjanya keliling, Lalana nyebutnya.”

Dedi menegaskan bahwa pembicaraan awal telah berlangsung dengan pimpinan PT KAI, namun implementasi rinci dan jadwal finalisasi masih menunggu proses lebih lanjut.