RIBUT-RIBUT Gerbang Gedung Sate: Pengamat Nilai Renovasi Tidak Proporsional, Dedi Mulyadi Beri Pembelaan

KabarSunda.com- Sejumlah pengamat budaya menyoroti pembangunan gerbang baru Gedung Sate yang mengadopsi desain Candi Bentar gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Konsep pembangunan tersebut dinilai tidak selaras dengan karakter arsitektur Gedung Sate yang bergaya art deco dan berstatus cagar budaya.

Pengamat budaya urban, Jejen Jealani, menilai bahwa pembangunan gerbang dengan desain Candi Bentar tidak memenuhi prinsip keselarasan estetika bangunan heritage.

Gedung Sate, yang dibangun pada masa kolonial Belanda dengan gaya art deco, memiliki karakter monumental yang seharusnya dijaga konsistensinya.

“Pembangunan elemen baru di sekitar bangunan heritage, secara etis dan estetika, harus selaras dengan bangunan heritage itu. Apalagi ini Gedung Sate yang sangat masif, sangat monumental,” ujar Jejen dikutip dari Pikiran Rakyat pada Minggu, 23 November 2025.

Ia menambahkan, ketidakselarasan gaya antara Candi Bentar dan Gedung Sate menciptakan kesan tumpang tindih yang tidak proporsional.

Renovasi gerbang Gedung Sate dilakukan karena pilar gerbang lama sudah lama tidak disentuh perbaikan.

Dedi Mulyadi kemudian menggagas konsep baru dengan inspirasi dari Candi Bentar, yang dikenal sebagai elemen arsitektur tradisional Jawa dan Bali.

Menurut Dedi, bagian pagar atau gerbang Gedung Sate bukan termasuk cagar budaya, sehingga bisa diperbarui dengan desain baru.

Ia menegaskan bahwa pembangunan dilakukan berdasarkan analisis ahli teknik sipil, bukan sekadar keputusan sepihak.

Meski demikian, keputusan ini memicu kontroversi. Banyak pihak menilai bahwa meski gerbang bukan bagian dari bangunan utama, tetap diperlukan keselarasan estetika agar tidak merusak citra Gedung Sate sebagai ikon Jawa Barat.

Selain itu, DPRD Jawa Barat juga mengkritik anggaran renovasi yang mencapai Rp3,9 miliar, dianggap boros dan tidak urgen.

Kritik semakin tajam ketika anggaran tersebut dibandingkan dengan pemotongan beasiswa santri yang terjadi di waktu bersamaan.

Menanggapi kritik, Dedi meminta publik untuk mempercayai analisis arsitek dan ahli teknik sipil yang terlibat dalam proyek tersebut.

Ia menilai bahwa perdebatan di media sosial sering kali tidak didasarkan pada kajian teknis yang mendalam.

“Disusun berdasarkan analisis yang ahli, orang teknik sipil yang menyusunnya,” kata Dedi di Gedung Sate.

Kontroversi desain Candi Bentar di gerbang Gedung Sate memperlihatkan tarik-menarik antara pelestarian heritage dan inovasi budaya.

Di satu sisi, renovasi dianggap perlu untuk memperbaiki komponen lama. Namun di sisi lain, pengamat budaya menilai bahwa desain baru tidak nyambung dengan karakter art deco Gedung Sate.

Perdebatan ini menegaskan pentingnya prinsip keselarasan estetika dalam pembangunan di sekitar bangunan cagar budaya.

Gedung Sate sebagai ikon Jawa Barat seharusnya dijaga keutuhan visualnya, agar tetap menjadi simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat.