KabarSunda.com- Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas).
Kali ini, tim mahasiswa menginisiasi Pengembangan Sistem Komposting Berbasis Partisipatif di Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Program ini menjadi bagian dari skema Top-Down yang bertujuan mendukung konservasi dan pengendalian pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yakni wilayah yang sejak lama menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat Jawa Barat.
Mengangkat masalah persampahan, Tim Trashformers ITB dengan bimbingan dosen Dr. Ir. I Made Wahyu Widyarsana, S.T., M.M. melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan Masyarakat di Desa Hegarmanah.
Kecamatan Jatinangor guna meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan melalui penerapan teknik komposting.
Desa Hegarmanah dipilih sebagai lokasi kegiatan karena berada pada kawasan lingkar utara DAS Citarum serta masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah rumah tangga, seperti keberadaan titik pembuangan liar serta fasilitas persampahan yang belum berjalan optimal.
Dilaksanakan sejak Agustus hingga November 2025, inisiatif ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata berupa penurunan volume sampah domestik yang berpotensi mencemari lingkungan, sekaligus meningkatkan partisipasi dan kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Survei Awal Terkait Kebutuhan Kondisi Eksisting
Sebelum melakukan diskusi terkait RW mana saja yang berpotensi mendapatkan alat-alat komposter yang digunakan, Tim Trashformers melakukan survey dan analisa kondisi eksisting pengelolaan sampah terlebih dahulu.
Kali pertama terjun ke lapangan, kami menemui Kepala Desa Hegarmanah dan berbincang-bincang di TPS Sauyunan yang berlokasi di Desa Hegarmanah.
Banyak informasi yang dapat digali dari perbincangan tersebut, mulai dari bagaimana sistem pengelolaan sampah di Desa Hegarmanah dan masalah-masalah yang seringkali muncul terakit persampahan.
Masyarakat masih cenderung belum teredukasi terkait pentingnya pemilahan sampah dan cara melakukan pemilahan sampah rumah tanga yang benar.
Namun terdapat beberapa warga yang sudah menerapkan system memilah sampah rumah tangga di tempat tinggalnya masing-maisng.
Setelah melakukan analisis kondisi eksisting, tim berencana untuk menumbuhkan budaya pemilahan sampah sebagai bentuk langkah awal, kemudian melakukan praktik dan sosialisasi terkait teknologi dan system pengelolaan sampah, khususnya sampah organik dengan teknologi composting
Penentuan alat composting
Melalui data-data dari hasil survey yang sudah dilakukan sebelumnya, kami melakukan diskusi bersama terkait alat apa yang sekiranya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh warga. Didapatkan
2 jenis alat yang diputuskan menjadi teknologi untuk dibagikan kepada warga di Desa Hegarmanah.
Untuk alat pertama dinamakan PASTEUR yakni Kompos Tower karena bentuknya yang seperti tower dengan konsep bertingkat-tingkat keatas, yang mana di bagian kubang-lubang tersebut akan ditanami bibit-bibit tumbuhan beragam jenis dan kompartemen di dalamnya digunakan sebagai wadah untuk memasukan sampah organic.
Untuk alat kedua dinamakan MUTEURKEUN karena pengadukan dilakukan dengan konsep diputar. Kedua alat ini diharapkan dapat bermanfaat untuk mengurangi sampah organik yang dihasilkan dari warga masyarakat dan dapat digunakan terus-menerus kedepannya.
Sosialisasi Penggunaan Alat Komposting
Pelaksanaan kegiatan mencakup rangkaian proses mulai dari sosialisasi dan edukasi lingkungan,, pembangunan fasilitas komposting komunal, hingga pendampingan langsung kepada masyarakat.
Kolaborasi dengan Pemerintah Desa Hegarmanah serta berbagai pemangku kepentingan lintas sektor turut memperkuat keberlanjutan program.
Sosialisasi tidak hanya dilakukan kepada warga Masyarakat di Desa Hgearmanah, namun juga dilakukan kepada murid-murid SDN Hegarmanah 1.
Sosialiasi dilaksanakan selama 2 yang dimulai melalui RW 3,4,5,6,9,10,13. Kegiatan sosialiasi ini mendapatkan sambutan yang hangat oleh warga maupun pihak sekolah, untuk mendukung tercapainya penggunaan alat dengan benar, Tim Trashformers membagikan poster dan buku saku yang berisikan tata cara penggunaan dari masing-masing alat agar warga dapat membaca kembali setiap saat.
Keberlanjutan Program
Kepala Desa Hegarmanah, Didi Sukandi, berharap bahwa program pemberdayaan Masyarakat do bodang persampahan oleh ITVB ini terus berkelanjutan kedepannya.
Bukan tanpa sebab, hal ini karena output yang dihasilkan dari kegiatan pemberdayaan Masyarakat oleh Tim Trashformers ITB menunjukan hasil yang memuaskan.
Alat-alat yang sudah dibagikan ke warga diterima dengan baik dan mendapatkan respon yang antusias ketika dilakukan sosialisasi.
Warga berharap kedepannya ITB dapat membagikan alat-alat composting ini lebih banyak tidak hanya berjumlah 1 setiap RW.
Melalui program ini, DPMK ITB berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang bersifat berkelanjutan untuk mewujudkan budaya mengelola sampah yang baik secara mandiri serta mewujudkan kawasan bebas sampah (zero waste area), dalam kerangka besar LPPM ITB dalam mewujudkan misi “membersihkan negeri”
Hasil kegiatan ini akan dipublikasikan melalui media sosial dan kanal informasi lainnya guna memperluas dampak dan mengajak masyarakat lebih luas berpartisipasi dalam program lingkungan berbasis komunitas.
Inisiatif ini menjadi bagian dari dukungan ITB terhadap terwujudnya program Citarum Harum, sebagai upaya menjaga ekosistem sungai strategis nasional tersebut.













