KabarSunda.com- Guna mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui optimalisasi aset lahan milik daerah. Pemkab Kuningan kerjasama dengan PT Rumah Tani Nusantara, penandatangan dilakukan di lokasi lahan, Kelurahan Awirarangan, Jumat (30/1/2026).
Surat Perjanjian Kerja Sama (PKS) tersebut ditandatangani Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan Uu Kusmana, S.Sos., M.Si. ,dengan Direktur PT Rumah Tani Nusantara Bahtiar, disaksikan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, Kepala BPKAD Kabupaten Kuningan Deden Kurniawan, A.Ks., S.E., M.Si., CFr.A, QRMP serta Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si mengatakan, bahwa kerja sama ini bukan sekadar target angka PAD, melainkan bagian dari perubahan pola pikir birokrasi agar lebih inovatif dan berorientasi hasil.
“Hari ini kita membuktikan bahwa pertanian ternyata bisa dikelola secara profesional. Sosok Pak Bahtiar ini contoh nyata, entrepreneur muda yang fokus di sektor pertanian, asli pituin Kuningan” ujar Bupati.
“Kita sedang memasuki momentum transformasi birokrasi menjadi berjiwa entrepreneur. Ini bukan lagi out of the box, tapi without the box,” tegasnya.
Dalam kerja sama tersebut, lahan yang dioptimalkan mencakup 11,5 hektar sawah dan 5,8 hektar perkebunan. Bupati menitipkan agar pemanfaatan lahan benar-benar sesuai peruntukannya sebagai lahan pertanian.
“Saya titip aset ini dijaga dan dimaksimalkan sesuai peruntukannya. Jangan sampai beralih untuk hotel atau lainnya,” tambah Bupati.
Bupati menyampaikan keyakinan bahwa kondisi keuangan daerah terus membaik dan Pemkab Kuningan mulai melewati fase berat tekanan fiskal.
“Kita mulai melewati fase badai keuangan. Insyaallah masalah gagal bayar selesai, utang dilunasi, dan kita mulai menata kesejahteraan ASN serta program kemasyarakatan lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BPKAD Kabupaten Kuningan, Deden Kurniawan, melaporkan bahwa kerja sama ini lahir dari semangat meningkatkan PAD di tengah kondisi fiskal daerah yang masih terbatas.
Menurutnya, kerja sama ini memanfaatkan tanah hak pakai milik Pemerintah Daerah berupa tanah sawah dan tanah kebun yang tersebar di 7 kelurahan dan 2 desa, yaitu Kelurahan Awirarangan, Cijoho, Ciporang, Winduhaji, Citangtu, Cigadung, Cipari, serta Desa Ancaran dan Desa Kawahmanuk.
“Total lahan yang dikerjasamakan meliputi lahan sawah seluas kurang lebih ±11,5 hektar dan lahan kebun seluas kurang lebih ±5,8 hektar,” sebutnya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan dilakukan dengan sistem sewa selama 3 (tiga) tahun, dengan nilai sewa sebesar Rp160.032.250,00 per tahun, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Melalui kerja sama ini, kita harapkan terwujud optimalisasi aset daerah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan daerah,” ungkapnya.
Direktur PT Rumah Tani Nusantara, Bahtiar, menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kuningan atas dukungan nyata terhadap pemanfaatan aset daerah untuk ketahanan pangan.
Ia menjelaskan, tahap awal pengelolaan lahan akan difokuskan untuk menanam padi dan jagung, sebagai fondasi sebelum masuk ke komoditas hortikultura seperti cabai yang juga mendukung pengendalian inflasi daerah.
Bahtiar mengungkapkan, lahan sekitar 17 hektar yang dikerjasamakan akan menyerap tenaga kerja cukup besar.
“Berapa petani yang terlibat, satu hektar itu kurang lebih melibatkan tiga sampai empat orang. Jadi, untuk lahan tujuh belas hektar ini, kurang lebih empat puluh sampai lima puluh orang akan terlibat di sini,” jelasnya.
Ia menegaskan, petani yang terlibat akan dikembangkan menjadi tenaga kerja profesional. “Petani yang terlibat akan kami jadikan karyawan dan digaji, bahkan di atas UMK. Petani Kuningan harus keren dan modern,” tegas Bahtiar.
Bahtiar menambahkan, kerja sama ini merupakan tahap awal dan masih terbuka peluang untuk mengoptimalkan lahan-lahan idle lainnya milik Pemkab Kuningan.
Selain itu, PT Rumah Tani Nusantara juga berencana memasukkan teknologi pertanian modern, termasuk teknologi presisi berbasis AI, agar dunia pertanian semakin terukur sekaligus menarik minat generasi muda.
“Ada beberapa teknologi yang ingin kami masukkan, seperti teknologi AI. Jadi, anak-anak muda juga bisa melihat bahwa pertanian itu tidak hanya harus di sawah, tetapi bisa dikontrol dari jarak jauh melalui pengukuran-pengukuran yang presisi,” katanya.













