Kisah Dokter RSUD Sumedang yang Sukses Operasi Indayanti, Penderita Dystonia

KabarSunda.com- Sebuah pesan terbuka penuh haru datang dari seorang remaja putri berusia 18 tahun, Indayanti, di Cimahi Jawa Barat, kepada Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Lewat sebuah narasi jujur, ia membagikan perjuangan panjangnya melawan Dystonia (Distonia), sebuah penyakit saraf langka yang sempat merenggut keseimbangan hidupnya selama tiga tahun terakhir.

Melalui pesan tersebut, ia tidak hanya bercerita tentang kesembuhan, tetapi juga menitipkan harapan besar kepada KDM agar memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tenaga medis lokal yang berhasil melakukan terobosan medis luar biasa.

Perjalanan Mencari Diagnosis 

Perjuangan ini dimulai Indayanti pada Agustus 2023. Sejak saat itu, ia harus keluar masuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) hampir setiap bulan.

Berbagai pemeriksaan mulai dari MRI hingga CT Scan dilakukan, namun diagnosa pasti tak kunjung ditemukan.

“Baru seminggu keluar, masuk lagi. Begitu terus sepanjang 2024. Tangan saya tremor, kaki bengkok, dan jalan tidak seimbang sampai harus menggunakan kursi roda,” kenangnya melalui akun Inday @__ndyindh, Jumat, 10 April 2026.

Namun, sebuah doa di penghujung tahun 2025 menjadi titik balik. Kurang dari dua pekan kemudian, bantuan datang dari seorang dokter di Sumedang.

Terobosan Medis  di RSUD Sumedang

Adalah dr. Arief Setia Handoko, Sp.BS, FMD, FINPS, FINSS., spesialis bedah saraf di RSUD Sumedang, Jawa Barat, yang menjadi sosok di balik “titik terang” tersebut.

Lewat ketelitiannya, penyakit langka Dystonia —yang biasanya menyerang lansia—, berhasil teridentifikasi pada remaja ini.

Tak sekadar diagnosa, dr Arief Setia Handoko beserta timnya melakukan tindakan medis mutakhir yang menjadi sejarah baru bagi dunia kesehatan di Jawa Barat.

Pada 11 Februari 2026, prosedur Stereotactic Brain Lesioning (SBL) berhasil dilakukan, dan pada 12 Februari 2026, teknik tersebut diterapkan kepada pasien remaja ini.

“Jawa Barat memiliki tenaga medis yang sangat berdedikasi dan ahli di bidang bedah saraf fungsional. Mereka mampu mengobati penyakit langka yang saya alami,” ujar Indayanti dengan penuh bangga.

Dia berharap agar dedikasi dr Arief Setia Handoko mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar).

Ia meyakini masih banyak warga Jawa Barat lainnya yang menderita tremor serupa namun belum menemukan solusi medis yang tepat.

Keberhasilan RSUD Sumedang dalam melakukan operasi Stereotactic ini menjadi bukti bahwa fasilitas kesehatan daerah mampu bersaing dalam menangani kasus-kasus medis tingkat tinggi tanpa harus merujuk pasien ke luar negeri atau ibu kota.

“Besar harapan saya agar keahlian beliau diapresiasi oleh Bapak Gubernur. Bukan hanya untuk beliau, tapi agar masyarakat tahu bahwa ada solusi bagi mereka yang menderita seperti saya,” pungkasnya.