Budaya  

Situs Gunung Padang Simpan Banyak Misteri, Dulu Pusat Keagamaan

KabarSunda.com- Situs Megalitikum Gunung Padang di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur masih menyimpan banyak misteri. Namun hal itu malah menjadi daya tarik tersendiri.

Situs yang diperkirakan berusia lebih tua dari Piramida Giza di Mesir itu pun diduga menjadi pusat kegiatan dan keagamaan bagi masyarakat terdahulu.

Arkeolog juga sudah melakukan penelitian lanjutan, dimana ditemukan struktur bangunan pada kedalaman 20 meter di bawah permukaan tanah yang usianya diperkirakan sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi.

Uniknya lagi, Situs Gunung Padang dibangun dengan memperhatikan lingkungan sekitar, dimana lokasinya diapit beberapa gunung kecil serta bagian depannya menghadap ke Gunung Gede.

Penelitian pun terus berlanjut untuk mencari identitas dari kelompok masyarakat yang tinggal serta misteri-misteri lainnya di situs tersebut.

Misteri dan magisnya situs Gunung Padang pun membuat berbagai tokoh spiritual turun gunung untuk melihat langsung serta memanjatkan doa di teras utamanya.

Bahkan sejumlah biksu pun datang langsung bertepatan dengan Hari Bumi beberapa waktu lalu.

Tidak sekadar memanjatkan doa, kedatangan para bisu dan lintas komunitas tersebut juga mengingatkan untuk menjaga alam agar terhindar dari berbagai bencana serta gejolak sosial.

Wakil Sekjen WALUBI, Romo Asun Gotama menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam menjaga kelestarian alam. Menurutnya, kesadaran ekologis tidak bisa dilepaskan dari kesadaran batin manusia.

“Dalam ajaran Buddha, harmoni dengan alam adalah bagian dari praktik kebijaksanaan. Ketika manusia hidup dengan kesadaran, welas asih, dan tidak serakah, maka alam pun akan terjaga. Doa ini menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari laku spiritual,” ujarnya.

Ketua Harian Artha Graha Peduli (AGP), Kent Dixon, menambahkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama lintas iman dan elemen bangsa.

“Kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab universal yang menyatukan kita semua. Dengan semangat gotong royong lintas iman, Artha Graha Peduli, satu hati untuk peduli, mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Hari Bumi sebagai momentum mempererat kerukunan, menjaga harmoni antara manusia, Sang Pencipta, dan Ibu Pertiwi, serta memastikan warisan alam tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Umum Forum Pemimpin Redaksi Media Siber Indonesia Dar Edi Yoga, menegaskan kunjungan ke Gunung Padang merupakan panggilan batin untuk mengembalikan kesadaran manusia terhadap bumi dan kehidupan.

Melalui momentum Hari Bumi ini, Yoga juga mengajak masyarakat dan para pemimpin bangsa untuk kembali memahami posisi manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas merusaknya.

“Kami tidak datang untuk meminta, tetapi untuk bersujud dalam syukur dan kesadaran. Bumi ini bukan untuk dieksploitasi tanpa batas, tetapi untuk dijaga. Ini adalah seruan tobat ekologis,” ujarnya.