79 Desa di Jawa Barat Jadi Lokasi Mangkal PSK, Pj Gubernur Ungkap Penyebabnya

Penjabat (Pj) Gubernur Jabar, Bey Machmudin

KabarSunda.com– Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 79 desa atau kelurahan di Jawa Barat menjadi lokasi tempat mangkal Pekerja Seks Komersial (PSK).

Data tersebut merupakan hasil survei yang tertuang dalam Statistik Potensi Desa Jawa Barat 2024.

Jumlah tersebut setara dengan 1,33 persen dari total 5.877 desa atau kelurahan di Jabar.

Menanggapi temuan itu, Penjabat (Pj) Gubernur Jabar, Bey Machmudin, menduga minimnya lapangan pekerjaan bagi perempuan menjadi penyebab menjamurnya lokasi tempat mangkal PSK.

Ia meminta Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), serta Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jabar memberikan pelatihan guna meningkatkan keterampilan perempuan.

“Itu kan terkait lapangan pekerjaan. Nanti kami koordinasikan dengan Disdik untuk pendidikannya, Disnakertrans juga KUK itu pastikan masalah ekonomi, keuangan harusnya diarahkan sejak awal mencari penghasilan dengan cara-cara yang baik,” kata Bey usai meninjau pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di Puskesmas Puter, Kota Bandung, Jumat, 14 Februari 2025.

Bey berharap pelatihan tersebut dapat menjadi modal bagi perempuan dalam mencari pekerjaan atau berwirausaha agar tidak terjerumus dalam prostitusi.

Selain itu, Bey telah menginstruksikan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar untuk membina mantan PSK melalui program Sekolah Perempuan dalam rangka pemberdayaan ekonomi.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Kanwil Agama (Kemenag daerah), juga DP3AKB untuk meningkatkan kemampuan mereka mencari penghasilan yang baik,” ujarnya.

Terkait tingginya kasus HIV di Jabar, Bey meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten dan kota untuk turun langsung ke masyarakat guna memberikan edukasi mengenai pencegahan penyakit tersebut.

Berdasarkan data, terdapat 9.625 kasus baru HIV di Jabar, angka yang mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Penyebabnya beragam, mulai dari penggunaan narkoba hingga didominasi oleh kelompok rentan tertentu.

“Nanti Dinkes edukasi ke masyarakat pencegahan bagi yang sudah terkena kan ada obatnya, lalu ada pemeriksaan rutin di Puskesmas,” kata Bey.