KabarSunda.com- Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah penumpang kapal pesiar ekspedisi MV Hondius menjadi kluster baru penyebaran virus yang berasal dari hewan tikus tersebut.
Hantavirus menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Pasalnya, penyakit ini dapat menimbulkan gangguan serius pada organ aru hingga ginjal jika tidak segera ditangani.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Devi Maryori mengatakan, masyarakat perlu mengenali gejala hantavirus sejak dini agar penanganan medis dapat segera dilakukan.
“Gejala hantavirus umumnya muncul satu sampai dua minggu setelah terpapar virus dari urine, feses, atau air liur tikus yang terkontaminasi,” ujarnya kepada berita.depok.go.id, Rabu (20/05/26).
Menurut Devi, gejala awal yang sering muncul meliputi demam, batuk, flu, nyeri otot, pusing, hingga tubuh terasa lelah.
Selain itu, ungkapnya, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, menggigil, serta gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas.
“Pada fase awal biasanya ditandai demam tinggi, kelelahan ekstrem, serta gangguan pada perut dan saluran pernapasan,” tambah Devi Maryori.
Lebih lanjut, Devi menambahkan, jika tidak segera ditangani, hantavirus dapat berkembang menjadi gangguan paru, sesak napas berat, hingga gangguan ginjal yang berpotensi mengancam jiwa.
Dalam hal ini, Devi mengingatkan kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, terutama bila mengalami gejala awal setelah berada di lingkungan yang berisiko terpapar tikus atau debu terkontaminasi.
“Segera datang ke puskesmas, dokter, atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai gejala yang dialami,” tutupnya.











