FER Jabar 2026: Helmy Yahya Paparkan Potensi dan Tantangan Pengembangan Kawasan Rebana

Rebana merupakan koridor ekonomi yang meliputi tujuh wilayah, yakni Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Subang.

Kepala Pelaksana Badan Pengelola (BP) Rebana, Helmy Yahya, memaparkan strategi pengembangan Kawasan Rebana sebagai motor pertumbuhan ekonomi masa depan Jawa Barat dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat (FER Jabar) 2026 di Aula Tampomas, Sumedang, Selasa, 23 Juni 2026. Foto: Alpin Pulungan/KabarBursa.com

KabarSundacom-  Kawasan Rebana disebut memiliki potensi sebagai salah satu wilayah pengembangan ekonomi baru di Jawa Barat yang mencakup sektor industri, logistik, manufaktur, dan ekonomi digital.

Kawasan ini juga ditopang sejumlah infrastruktur strategis seperti Bandara Internasional Kertajati dan Pelabuhan Patimban.

Rebana merupakan koridor ekonomi yang meliputi tujuh wilayah, yakni Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Subang.

Kawasan tersebut dikembangkan dengan tujuan memperkuat aktivitas ekonomi regional melalui pengembangan kawasan industri dan konektivitas logistik.

Kepala Pelaksana Badan Pengelola Rebana, Helmy Yahya, mengatakan pengembangan kawasan tersebut berkaitan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan investasi.

“Rebana bisa menjadi lokomotif pertumbuhan Jawa Barat dan Indonesia,” kata Helmy Yahya dalam Forum Ekonomi Regional Jawa Barat (FER Jabar) 2026 di Aula Tampomas, Sumedang, Selasa, 23 Juni 2026.

Helmy menjelaskan pertumbuhan ekonomi secara umum ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, ekspor neto, dan investasi. Menurut dia, investasi menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kapasitas produksi dan ekspor.

Ia menyampaikan Badan Pengelola Rebana saat ini melakukan promosi kawasan kepada investor dari berbagai negara.

Sejak mulai bertugas pada September 2025, upaya tersebut difokuskan pada penguatan branding kawasan investasi.

Menurut dia, sejumlah investor dari China, Australia, Prancis, Inggris, Jepang, dan Malaysia telah menunjukkan minat terhadap kawasan tersebut.

Selain itu, sebanyak 150 investor asal Selangor, Malaysia, dijadwalkan datang pada 9–10 Juli untuk melihat peluang investasi di Jawa Barat.

Helmy juga menyoroti peran ekonomi digital sebagai salah satu sektor yang berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menyebut sektor tersebut berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan integrasi rantai pasok global.

Di kawasan Rebana, sejumlah perusahaan industri telah beroperasi, di antaranya BYD, VinFast, serta industri pendukung lain termasuk pemasok untuk merek internasional seperti Uniqlo. Kehadiran industri tersebut turut membentuk aktivitas produksi di kawasan tersebut.

Helmy menyebut masih terdapat sejumlah isu yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan investasi, antara lain sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, kepastian insentif fiskal, serta kecepatan proses perizinan.

Menurut dia, kepastian regulasi dan perizinan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investasi.

Ia juga menyinggung kebutuhan penyesuaian antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri.

Berdasarkan proyeksi pengembangan kawasan, Rebana diperkirakan memiliki potensi penyerapan tenaga kerja sekitar 1,8 juta orang, sehingga diperlukan kesesuaian kompetensi tenaga kerja.

Dari sisi sektor yang diminati investor, Helmy menyebut data center menjadi salah satu bidang yang banyak dibahas dalam pengembangan kawasan industri.

Kebutuhan lahan dalam skala besar disebut menjadi salah satu faktor yang muncul dalam diskusi investasi.

Kawasan Rebana memiliki dukungan infrastruktur berupa Bandara Internasional Kertajati, Pelabuhan Patimban, serta jaringan logistik yang menghubungkan sejumlah wilayah industri di Jawa Barat.

Selain itu, kawasan ini juga memiliki struktur biaya logistik dan harga lahan yang relatif lebih rendah dibanding beberapa wilayah industri lain.

Kawasan Rebana mencakup area sekitar 43.900 hektare dengan tingkat pemanfaatan yang masih terbatas. Pemerintah juga mencatat adanya dukungan proyek strategis nasional di kawasan tersebut.

Helmy menilai pengembangan kawasan Rebana masih bergantung pada sejumlah faktor seperti kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, serta daya dukung sumber daya manusia.

“Rebana berada dalam proses pengembangan sebagai kawasan ekonomi,” kata Helmy.